Kamis, 03 Juli 2014

HAPPY FIRST ANNIVERSARY 7.6.13 - 7.6.14

Alhamdulillah hirobbil alamiiiiiiiiiiin . . :D
Itulah kata2 pertama yang ingin aku katakan kepada semuanya dan kepada Allah, tuhan yang maha esa wkwk
Akhirnya hubunganku sama si asti ini uda setahun lebih. sebenere sih mau nge post tulisan ini sejak sebulan kemarin, tapi gegara waktu yang ga memungkinkan dan juga banyak juga agenda yang harus diselesaiin (maklum semester tua wkwk). akhirnya hari ini deh baru bisa ngepost tulisan ini (gegara nganggur di tempat magang wkwk).
hemm, aku bersyukur banget dikarenakan setahun ini tuhan bisa ngasih kita kesempatan buat trus selalu bersama. Aku ya bersyukur kepada tuhan yang uda ngasih rejeki buat biaya pacaran, biaya buat sneng2 bareng, waktu yang engga bisa tergantikan dengan materi, kesempatan untuk memberikan kebahagiaan kepada asti, dan lain2 heheh.
buat si asti, makasih ya buat semuanya. buat semua waktumu, biaya buat pacaranmu, pengorbananmu, keluargamu yang selalu bisa mensupport hubungan kita, dan juga semuanya deh heheh
Akhirnya kemaren (sebulan lalu) kita bisa ngadain acara selametan kecil2an di Warung Lesehan Jimbaran Rungkut Alang-alang bareng temen2 kita. ga banyak sih, tapi lumayanlah buat acara anniversary an wkwk.
moga aja dengan adanya umur pacaran yang bertambah ini kita bisa makin interopeksi, saling jaga hati, bertengkarnya dikurangin, jadi makin adem ayem, makin romantis, semakin dewasa, gausa ngambek ngambekan, semakin serius, gausa ganjen2an, saling ngingetin jika ada kesalahan dan semua deh pokoknya.
langgeng yaaaaaaaaa wkwk
nih, ada kutipan lagu wajib kita wkwk. moga aja bisa mengisnpirasi wkwk
Every step you take, every word you say and every game you play i'll be watching you
Cause my love for forever
(Killing Me Inside - Forever)
I will climb the hills, draw my sword and take down anyone who tries to stand in front of me
please know i'll never run away without you in my arms
One day lovers will dream of this undying kiss, Not of romeo or juliet
Stories told of our love will never die
(Alesana - As you wish)
Tell me that you need me cause I love you so much
Tell me that you love me cause I need you so much
Tell me that you need me cause I love you so much
Say you'll never leave me cause i love you so much
(Bring me the horizon -  Dont go)
banyak sih tapi males ah ngetik banyak, ntar malah dimarahin pegawai dispora lainnya wkwk
HAPPY 1ST ANNIVERSARY ASTIIIIIIIIIIIIII :* ({})
 7.6.13 - 7.6.14
LAVYUUUUUUUUUU

Senin, 02 September 2013

ASTI FISTASARI

Holla holla . .
apa kabar semua ? sehat ? apakah kalian baik baik saja ? *nada lagu seringai*
Sorry sorry kaet isok ngeblog mane :D. Kmaren kmaren masih sibuk soale, heheh
Kali ini aku cuman mau share cerita aja kok. Cerita mengenai seseorang yang (sampai saat ini) bisa membuat aku slalu membuat aku bersemangat dan semakin kuat dalam menjalani kehidupan
Dia itu cewek *iyalahmasacowo? *timpuk bata*, cantik, pinter, rodok low concentration, sekseh, baik hati, selow, cerewet, kakean cocot, enak gawe curhat, enak gawe seru2an, wes pokoke ngunu ikulah.
Namanya itu, Asti Fistasari :*
Dia itu anak maba uner (universitas erlangga) *itunegeriya?.
hemm tapi pas aku nembak dia dulu dia statusnya masih anak SMAN 14 kok, heheh. Dia anak D3 kepariwisataan atau bina wisata, tapi buat konsentrasinya dia lebih milih perhotelan dari pada usaha perjalanan wisata
Hemm, kenapa sih aku cerita tentang anak ini ? hahahahahhahahah *ngakak sampe sidang skripsi*
Dia ini magelpren, ngerti ga ? my girl friend (read:magelpren)= pacarku . ngerti ora son ?
aku sama asti tuh punya banyak banget persamaan, yaa mungkin dari itulah kita disatukan :D.
mulai dari suka music2 yg berbau underground (hardcore, dm, bm, dc, tdm, tm, dll), trus suka liat konser bareng, ke indie cloth bareng, nyarik kuliner yg belum pernah dimakan, seru2an bareng, belajar kere, touring bareng, suka foto2an gajelas dan suka belajar hal hal baru, dan banyak lainnya
Heheh, insya allah dah ini yang terakhir. Dan moga aja ini jodohku. Amiiiiiiiin *suara ibu2 pkk pada doain*. Soalnya yaa . .. yawes ngunu lah, males alay aku =D
Kita (aku+asti) itu jadian tanggaltujuhjunitahunduaributigabelasjamtigabelaspas. Bisa baca ? :p. Terus uda berapa hari sampe sekarang (waktu pembaca membaca tulisan ini) ? ya itung sendiri. Dari tanggaltujuhjunitahunduaributigabelasjamtigabelaspas sampe sekarang uda berapa hari :p
Sebenarnya ceritanya itu panjang dan penuh dengan problematika, namun ga bisa dijelasin lewat 140 karakter *matamumbokkirotwitterta?. Namun pada akhirnya kita disatukan juga
Yaah moga aja ini yg terakhir J
Lavyuuu astiiiiiiii :D

Nih aku kasih pict nya nya







Jumat, 10 Mei 2013

GOES TO BROMO

WAKAKAKAKAKAK
salut banget buat temen2 karena udah bisa mewujudkan keinginan nya buat pergi ke beromoh =D
padahal niatnya iseng ke beromoh, eh ternyata kesampean. ditambahi lagi maen maen ke air terjun madakaripura
serunya lagi, ketika waktu dorong motornya VEGA ZR nya hendra yang kenak ban bocor setelah berenang di lautan pasir nya gunung beromoh. tapi gapapa laah. yang penting have fun :*
dan juga selamat buat adhim yang udah bisa mutusin sandal EIGER nya =D
sekali lagi, suon reek
AKMAL HAKIM @akmalsonozaki
ACHMAD MAULANA ISMAIL
NASRULLAH ADHIM
HENDRA IRAWAN

nih ada beberapa jepretannya









Minggu, 05 Mei 2013

Undergod - Lain Saukur Raheut 

NAHA AING SALAH MUN AING NYAAH KA SIA
NEPI NGORBANKEUN HARTA BENDA JEUNG HARGA 
NEPI POHO GAWE,POHO BABATURAN AJANG SIA... 
EMANG AING SANGSARA TEU BISA MERE HARTA 
TAPI SIA KUDU MIKIR
CINTA LAIN KITU CARANA ... 2x 
Reff: 
RAHEUT...LAIN SAUKUR RAHEUT 
HATE AING RUJAD GARA-GARA SIA... 
RAHEUT...LAIN SAUKUR RAHEUT HATE 

AING RUSAK GARA-GARA SIA.... 
ARI ENENG NAHA NGABOJRETKEUN AKANG
AKANG TEH SALAH NAON KA ENENG
BEAK HARTA, SAWAH, IMAH
JEUNG SAGALANA
NGABELAAN ENENG
TAPI ENENG GEUS NYALINGKUHAN AKANG
AKANG MAH NYEURI HATE

MONTONG SIA ASA PAYU KALALAKI
MONTONG CANGKENG AWAK TOMBOY
NAHA SIA NYALINGKUHAN AING, ARI AING SALAH NAON... 
ABONG BOOL DENOK,ABONG AWAK MONTOK,ABONG PAYU KOPLOK 4x 

Read more at: http://everlastinginscreamo.blogspot.com/2012/09/undergod-lain-saukur-raheut.html

Senin, 15 April 2013

lyric lagu Bersimbah Darah - Kau Tak Layak Hidup


Hidup dosa berujung darah
Siksa batin teraniaya
Mata buta tertutup asa
Siksa batin tak layak hidup

Hidup dosa berujung darah
Siksa batin teraniaya
Mata buta tertutup asa
Siksa batin tak layak hidup

Luka..manusia..didunia..
Sampah,tai,hina,laknat

Hidup dosa berujung darah
Siksa batin teraniaya
Mata buta tertutup asa
Siksa batin tak layak hidup

SIKSAKUBUR - NERAKA SETARA MATA



SIKSAKUBUR - NERAKA SETARA MATA (lirics)
Neraka.... Setara mata
Tampak merata
Agenda genosida....
Merancang bencana
Hadirkan binasa....
Petaka.....
Menelan jantung kota
Sunyi tak berpenghuni
Eufoni Sangkakala
Hujan api
Asap pekat, sarat kematian
Artefak yang retak
Di bawah reruntuhan puing kota
neraka
DENGARKANLAH.... YANG.... MA.... TI
Mereka datang layaknya
kawanan binatang
DENGARKANLAH.... YANG.... MA.... TI
Menyerang menagih nyawa tak
terbilang
Rampasan nyawa
Tertimbun dalam bejana
Terjaga cerberus
Bertaring pekat jelaga
Sehitam jubah
Malaikat pencabut nyawa....
Kota telah mati....
Yang dulu suci....
Terlalap api....
DEMOLISI TANPA HENTI
Nisan bersama....
Jiwa jelata....
Jasad terbantai....
RANGKAIAN RANTING KEMATIAN
NERAKA.... DI UJUNG MATA
MEMBAKAR SEGALA....
4 X
Kota telah mati....
Yang dulu suci....
Terlalap api....
DEMOLISI TANPA HENTI
Nisan bersama....
Jiwa jelata....
Jasad terbantai....
RANGKAIAN RANTING KEMATIAN
Neraka.... Setara mata
Tampak merata
Agenda genosida....
Merancang bencana
Hadirkan binasa....
DENGARKANLAH.... YANG.... MA.... TI
Bercakap senyap berelegi
DENGARKANLAH.... YANG.... MA.... TI
Berkata selamatkan kami....

Sabtu, 09 Maret 2013

JudulLiberal Feminism
Dasar PemikiranPengertian umumLiberalisme melihat bahwa hakekat manusia terletak pada kesadaran, keunikan pada setiap individu dan untuk menjadi bebas manusia harus menggunakan rasio karena rasionalitas sangat penting untuk mencapai kebebasan. Penalaran rasio penting unutk mengerti prinsip-prinsip moralitas yang dapat menjamin otonomi manusia dan menjadi bebas.Feminisme Liberal
Beberapa tokoh feminis liberal menekankan kesamaan paa kesempatan pendidikan (Wollstonecraft). Dan juga mementingkan terpuaskannya pleasure dan happiness (Mill dan Taylor)
Perempuan juga harus sadar sebagai mahluk rasional yang mempunyai hak sipil, ekonomi, benefit dari publik, seperti jaminan sosial, dan sebagainya (Mill)
Feminis liberal setuju akan negara kesejahteraan dimana kekuasaan negara dibatasi.
Tokoh dan KaryanyaAlison Jaggar (Feminist Politics and Human Nature)Mary Wollstonecraft (A Vindication of the Rights of Woman)
John Stuart Mill and Hariet Taylor (Early Essays on Marriage and Divorce)
John Stuart Mill ( The Subjection of Waomen)
Hariet Taylor (Enfranchisement of Women)
Angela Davis (Women, Race and Class)
OrganisasiNational Organization for WomenNational Women’s Political Caucus
Women’s Equity Action League
Women’s International Terrorist Conspiracy for Hell
National Women’s Party
National Federation of Business and Professional Women’s Clubs
KritikAda beberapa kesalahan dalam feminisme liberal dimana mereka salah mengemukakan tentang hak individual yang terlalu ideal dan terlalu komit karena selama ini tidka ada masyarakat yang benar-benar bebaas.Asumsi yang diugkapkan feminisme liberal adalah perempuan bisa menjadi seperti laki-laki asalkan mereka menset pikirannya, dan mereka mengatakan bahwa banyak perempuan yang ingin menjadi seperti laki-lali dan juga semua perempuan harus mempunyai keinginan menjadi sepertilaki-laki terutama dalam menganut nilai kelaki-lakiannya.
Kritik lainnya adalah perempuan tidak hidupa hanya dengan rasio dan otonomi semata, hal ini terjadi karena perempuan ingin sekali mengadopsi nilai-nilai laki-laki terrutama mengenai konsep diri laki-laki.
Feminisme liberal terlalu rasis karean hanya mewakili kulit putih, berkelas artinya hanya mencakup perempuan dari kelas menengah dan heteroseksual
JudulRadical Feminism
Dasar PemikiranMenurut feminisme radikal pemisahan antara sektor publik dan sektor private harus dipisahkan.Menurut aliran ini perempuan secara historis kelompok yang tertindas, bentuk ketertindasan perempuan yang paling luas dan mendalam dari bentuk ketertindasan yang ada. Penindasan terhadap perempuan hal yang paling sulit dan tidak mudah untuk dihilangkan tidak seperti penindasan lain. Penidasan terhadap perempuan menyebabkan secara kuantitatif dan kualitatif penderitaan yang paling hebat dan seringkali penindasan ini tidak terungkap karena dilakukan secara sembunyi (domestic violence). Dan Pemahaman terhadap penindasan perempuan dapat memberikan konsep atau pengertian konsep terhadap bentuk penindasan lain, dengan kata lain dengan memahami penindasan terhadap perempuan maka dapat dengan mudah memahami bentuk penindasan lain.
Menurut aliran ini penindasan dapat dihilangkan dengan cara menentang masyarakat patriarkis. Persoalan penindasan perempuan didasarkan atas hubungan kekuasaan dimana ada kecenderungan laki-laki untuk mengkontrol perempuan. Kegiatan laki-laki dilegitimasi oleh institusi masyarakat yang patriarkis.
Tokoh dan KaryanyaAllison Jaggar, Paula Rothenberg, Joreen J, Gayle rubin, Kate Millett (Sexual Politics), Shulamith Firestone ( Dialectic of Sex), Marilyn French (Beyon Power), Mary Daly (Beyond God the Father : Toward a Philosophy of Women’s Leberation), Marge Piercy (Woman on the Edge of Time)
OrganisasiRedstockings,New York Radical Feminist,
Radical-Libertarian Feminists,
KritikHal yang paling penting adalah dalam feminisme radikal ditekankan sekali tentang laki-laki menindas dan perempuan yang tidak bersalah, mereka terjebak pada esensi dari realitas yang akhirnya mengakibatkan analisa mereka mengalami kebuntutan dan secara politik mereka berbahaya.Mereka juga terlalu menganggap tidak positif terhadap hubungan sex yang heteroseksual karena perempuan lebih banyak dieksploitasi, padahal hubungan ini seharusnya dipelihara dan kedua pihak sesungguhnya hanya ingin mencari kesenangan.
JudulMarxist and Socialist Feminism
Dasar PemikiranKonsep dasar dari feminisme marxis dan sosialis didasarkan pada teori Marx, yang memandang bahwa manusia baru bermakna apabila mereka melakukan kegiatan berproduksi, sehingga dapat dikatakan bahwa manusia lewat berproduksi mnciptakan masyarakat yang kemudian menciptakan atau membentuk mereka.Dari sudut pandang teori ekonomi dipandang bahwa sistem kapitalisme hanya mendasarkan hubungan pertukaran hubngan dan pertukaran kekuasaan yang nantinya mengharapkan surplus value dari hubungan employer dan employee. Sehingga manusia tidak memiliki kebebasan untuk memilih sebab mereka sebagai pekerja yang tertindas.
Dari sudut pandang sosial memnunculkan kesadaran kelas yang dikarenakan trjadinya alienasi baik terhadap produk, terhadap dirinya, terhadap masyarakat dan alam sekitarnya.
Dari sudut pandang politik dilihat adanya perjuangan kelas dan kesatuan para pekerja.
Feminisme Marxis
Melihat bahwa keberadaan secara sosial menentukan kesadaran, dan penindasan terhadap perempuan adalah hasil dari produk struktur politik, sosial dan ekonomi. Jadi penekanan pada feminisme marxis lebih pada persoalan kelas (Marx dan Engels)
Femiisme Sosialis
Penekanannya lebih pada persoalan keterkaitan kapitalisme dalam menumbuhkan patriarki (Habermas, Althusser)
Tokoh dan KaryanyaKarl Marx, F. Engels, Habermas, Althusser, Clara Zelthin, Juliet Mitchell, Iris Young, Alison Jagger
KritikMereka dalam melihat keluarga adalah laki-laki disektor publik dan perempuan disektor privat dan ini pembagian yang terjadi didalam sistem kapitalis, padahal dalam keluarga tidak sesederhana itu karena didalam keluarga masih merupakan satu-satunya tempat dimana manusia dapat menemukan cinta, keamanan, dan kenyamanan, dan keluarga bukanlah hanya melulu merupakan alat produksi dan hanya melulu membicarakan keuangan semata tetapi juga mereka masih membahas tentang hal-hal penting lainnya yang menyangkut keluarga.Kritk keda yang menyangkut feminisme sosialis adalah cara mereka memandang bahwa feminisme ini terlalu sedikit membicarakan penindasan laki-laki terhadap perempuan, hal ini dikemukakan oleh feminisme marxis. Feminisme soslialis lebih memperhatikan penindasan utama adalah pada perempuan sebagai pekerja dan juga perempuan sebagai perempuan.
JudulPsychoanalytic and Gender Feminism
Dasar PemikiranDalam membahas feminisme psikoanalisa tidak dapat terlepas dari Sigmund Freud, yang mengatakan bahwa tingkat perkembangan super ego perempuan sangat jauh berbeda dengan laki-laki, karena mereka tidak pernah bisa terlalu impersonal, atau terlalu mandiri terhadap emosi mereka. Perempuan selalu menunjukkan kurang peka terhadap keadilan, kurang siap dalam menghadapi kehidupan. Perempuan selalu terpengaruh perasaannya ketika harus melakukan penilaian. Perempuan adalah mahluk yang tidak lengkap.Ada 3 tahap perkembangan seksualita pada setiap manusia, yaitu tahap oral (memperoleh kepuasan sex melalui organ mulut), tahap anal (merasakan sensasi pada daerah organ dubur/ genetalia) dan tahap phallic (adanya oedipus complex) dari ketiga tahapan ini akan mengembangkan super ego (relasi sosial )pada setiap diri manusia.
Psychoanalytic Feminism
Menentang bahwa bentuk biologis perempuan bukanlah suatu persoalan yang penting, namun yang menjadi perhatian dan menjadikan perempuan tertidas adalah ketidakpunyaan perempuan akan penis, yang mengakibatkan masyarakat selalu merendahkan perempuan dibandingkan laki-laki. Dan simbol penis yang memberikan kekuasaan pada laki-laki.
Gender Feminism
Aliran ini lebih tertarik pada perbedaan psycheantara laki-laki dan perempuan. Antara laki-laki dan perempuan selalu dibesarkan dengan nilai gender yang spesifik, yaitu : adanya penekanan pada pemisahan dalam hidup laki-laki dan adanya penyambungan dalam hidup perempuan. Selain itu juga adanya kecenderungan mengunggulkan budaya laki-laki yang mengekang perempuan.
Tokoh dan KaryanyaPsychoanalytic FeminismAlfred Adler, Karen Horney, Clara Thompson, Dorothy Dinnerstein, Nancy Chodorow
Gender Feminism
Carol Gilligan
KritikMereka terlalu memperhatikan segi psikologis saja dan tidak memperhatikan segi sosialnya padahal yang saat ini terjadi lebih banyak menyangkut segi sosial.Mereka juga kurang menghargai keberagaman bentuk dari keluarga yang mengambil dari interkultural dan intrakultural.
Perempuan dianggap kurang mempunyai kontrol terhadap sesuatu dan orang dibandingkan laki-laki, dan hubungan simbolik yang terjadi selalu dikuasai oleh laki-laki, padahal ada pemecahan yang lebih menekankan penciptaan dan pemeliharaan sistem orang tua lengkap.
Pada Gender Feminism dikatakan kurang mengangkat masalah hak, dan masalah lainnya adalah kurang melihat dampak negatif dari pembentukan organisasiperempuan dengan penanganan secara eti
JudulExistentialist Feminism
Dasar PemikiranDalam membahas feminisme eksistensialis tidak akan terlepas dari tokoh Sartre yang mengatakan bahwa kesadaran bukan hanya tergantung pada diri manusia tetapi mengarah pada objek diluar manusia. Dalam bukunya Being and NothingnessSartre mengungkapkan ada 3 cara manusia berada, yaitu Etre-en-soi atau Being in itself lalu Etre-pour-soi atau Being for itself dan Etre-pour-les autresatau Being for athersBeing in itself megarah pada metafisika atau ada yang padan dan penuh. Being for itself manusia itu bercelah, tidak sempurna keberadaannya karena manusia dilahirkan untuk bebas untuk menentukan ingin menjadi apa yang ditandai adanya aktifitas menidak. Being for otherslebih dilihat pada relasi sosial dimana subyek akan selalu mempertahankan kesubyekannya dan manusia yang kalah dalam mengobyekkan yang lain disebut malafide (manusia munafik yang mau saja diatur atau tidak mau menerima kebebasan sebagai tanggung jawabnya)Feminisme eksistensialis
Melihat bahwa perempuan selalu menjadi obyek dari laki-laki dan perempuan adalah malafide menurut konsep Sartre. Beauvoir mengkritik psikoanalisa yang mengatakan bahwa perempuan adlaah mahluk yang tidak lengkap, dan tidak cukup kiranya perempuan dijadikan obyek laki-laki karena segi biologis. Dianggap perempuan mempunyai keterbatasan biologis untuk bereksistensi sendiri. Beauvoir juga melihat bahwa institusi pernikahan merupakan institusi yang merenggut kebebasan perempuan.
Ada 3 tipe perempuan yang malafide yaitu The Prostitute, The Narcistic dan the Mystic.
Tokoh dan KaryanyaSimone de Beauvoir (The Second Sex)
KritikDalam bukunya The Second Sex ternyata tidak mencakup atau tidak dapat diakses oleh semua perempuan. Dan mengenai konsep imanen, transenden, being in itself, being I\for itself,esensi dan eksistensi merupakan suatu gagasan yang abstrak yang mungkin saja hasil rekaan dari filusuf terdahulu.Beauvoir percaya bahwa laki-laki unggul karena keadaan tubuh yang berengaruh pada pemikirannya sehingga agar perempuan bebas berkreasi mereka harus menidakkan tubuh mereka dan berhubungan langsung dengan alam sekitar mereka. Disini terlihat adanya ketidak percayaan Beauvoir terhadap tubuh.
JudulPostmodern Feminism
Dasar PemikiranPenekanannya pada textdimana realitas adalah text/ intertextual baik yang berbentuk lisan, tulisan dan image,, sehingga yang menjadi perhatian dari aliran feminisme postmodern adalah mereka mengkritik bahwa adanya cara berfikir laki-laki yang diproduksi melalui bahasa laki-laki.Penalaran yang mereka terapkan hanya pada investigasi bahasa. Mereka juga menolak cara berfikir feminis yang fanatik/ tradisional. Dan mereka juga menekankan intrepretasi yang plural dalam kajian perempuan.
Feminisme ini dipengaruhi oleh filusuf Perancis, Eksistensialis, Psikoanalisa, Dekonstruksi.
Mereka mengatakan bahwa perbedaan antara laki-laki dan perempuan harus diterima dan dipelihara. Mereka berusaha membongkar narasi-narasi besar, realitas, konsep kebenaran dan bahasa
Mereka menganggap bahwa tiasp masyarakat diatur oleh suatu seri tanda, peranan dan ritual yang saling berhubungan yang disebut aturan simbolik dan internalisasi aturan simbolik dihasilkan lewat bahasa sehingga semakin banyak aturan simbolik masyarakat yang diterima oleh seorang anak semakin tertanam didalam alam bawah sadarnya.
Dalam pembongkaran tidak dapat dihancurkan total tetapi bisa diperlemah dengan melakukan pembongkaran tersebut dengan melakukan interpretasi alternatif.
Ada beberapa langkah yang ditawarkan untuk menstrukturkan pengalaman perempuan dalam dunia laki-laki, yaitu : perempuan dapat membentuk bahasanya sendiri, perempuan dapat membuatseksualitasnya sendiri, dan ada usaha untuk menyimpulkan dirinya sendiri (Undo diskursus phallosentris)
Tokoh dan KaryanyaSimone de Beauvoir, Derrida, Claude Levi Strauss, J. Lacan, Helen Cixous, L. Irigaray
KritikBeberapa kritik menolak untuk menjadikan feminisme postmodern sebagai feminisme untuk akademisi, hal ini menunjukkan bahwa ada gerakan untuk menghapuskan feminisme postmodern sebagai epikurus kontemporer.Feminisme postmodern selalu menempatkan diri di sisi yang salah seperti dalam perdebatan kesamaan dan perbedaan hak antara perempuan dan laki-laki, juga tentang anti esensialisme dan esensialisme. Hal ini terjadi karena mereka selalu melihat realitas hanya sebatas text dan terkadang bisa terjadi perempuan yang tidak feminin dan laki-laki yang tidak maskulin. Semua itu terjadi karena semangat mereka mengadakan pembongkaran dan keberagaman (pluralisme)
JudulMulticultural and Global Feminism
Dasar PemikiranMulticultural FeminismPada intinya feminisme aliran ini menekankan pada penghargaan terhadap perbedaan nilai dan prinsip pada setiap kelompok dan mereka menyambut baik terhadap pemikiran budaya multikulturalisme.Perlawanan terhadap seksisme harus menjadi prioritas dan isme-isme yang lain seperti rasisme dan lain sebagainya
Untuk mengatasi ketertindasan perempuan bukan dengan cara mengambil satu bagian dan menganggap bahwa bagian tersebut telah menjelaskan seluruh persoalan ketertindasan perempuan, tetapi harus dilihat sebagai suatu keseluruhan yang memungkinkan kita untuk bergerak bebas dalam menganalisa dan tidak tersempitkan oleh hanya satu pandangan apalagi dibatasi oleh definisi tertentu.
Global Feminism
Fokus feminisme aliran ini adalah penindasan dunia pertama karean kebijaksanaan nasional yang mengakibatkan penindasan perempuan di dunia ke tiga. Merekalebih menekankan pada isu kolonialisme, ketimpangan keijakan dunia pertama juga masalah politik dan ekonomi. Mereka sepakat bahwa penindasan politik dan ekonomi lebih diperhatikan. Mereka melihat adanya perbedaan cara pandang anatar feminis dunia pertama dengan dunia ke tiga.
Tesis mereka adalah setiap perempuan berbeda, setiap komunitas dimana perempuan itu berada juga berbeda. Penindasan yang terjadi pada perempuan mempunyai keunikan dan kondisi yang berbeda.
Tokoh dan KaryanyaMulticultural FeminismElizabeth Spelman, Elizabeth Cady Stanton, Audre Lorde, Patricial Hill Collins, Angela Davis (Women, Race, and Class)
Global Feminism
Nawel el Saadawi, Susan Sherwin (No Longer Patient)

Tong, Rosemarie Putnum. 1998. Feminist Thought. USA: Allen & Unwin, 

from: http://staff.blog.ui.ac.id/arif51/2009/09/07/beberapa-aliran-feminisme/

Selasa, 19 Februari 2013

Lirik Lagu SERINGAI - MENGADILI PERSEPSI (BERMAIN TUHAN)



SERINGAI - MENGADILI PERSEPSI (BERMAIN TUHAN)

Individu, individu merdeka
Individu, individu merdeka
Individu, individu merdeka
Individu, individu merdeka!
Selamat datang di era kemunduran,
pikiran tertutup jadi andalan.
Praduga tumbuh tenteram,
menghakimi sepihak, sebar ketakutan.
Membakukan persepsi, bukan jadi jawaban
atau gagasan bijak.
Selangkah maju ke depan,
empat langkah ke belakang,
kita takkan beranjak.
Mereka, bermain Tuhan.
Merasa benar, menjajah nalar.
Dan kalau kita membiarkan saja, anak kita berikutnya.
Individu, individu merdeka
Individu, individu merdeka
Individu, individu merdeka
Individu, individu merdeka!
Selamat tinggal, era kemajuan,
lupakan harapan dan kehidupan.
Menjauh dari akar masalah,
mendekatkan kepada kebodohan yang dipertahankan.
Privasi. Seni.
Siapa engkau yang menghakimi?
Masih banyak masalah, dan lebih krusial,
tidak bicara asal.
Mereka bermain Tuhan.
Merasa benar, menjajah nalar.
Dan kalau kita membiarkan saja, anak kita berikutnya.
Berikutnya….

Senin, 28 Januari 2013

Goes To Pacet, Cangar dan rumahnya Fendik :D

hahah, okeoke.
ini kisah perjalanan ku sama My Best Friend Forever Never Ever be A part :D hahah
namanya Hendra Irawan. temen sebangku dari Kelas X - XII IPA SMA
kereeen :D
naah, kmaren pas waktu hari rabu tanggal 23 jan kita nyangkruk bareng. laah seperti kebiasaan tiap malem kita, yaitu nyangkruk diwarkop langganan kita. hahah
tapi apes banget, waktu mau perjalanan ke warkopnya, eh malah banku bocor -_____-
akhirnya setelah ditambal, langsung cus warkop, trus ngobrol2 sampe akhire tiba2 hendra malah ngajakin ke pacet. buseeet . . duit nipis nih -_____- hahah. tapi ga apalah, bonek kok wedi duek nipis -_- nekat reek . .
setelah nyangkruk sampek jam 3 ditemani dengan banyolan khas, sampek bosok pokoke :D akhirnya kita pulang. dan hendra akhirnya tidur dirumah ane.
dan waktu udah nunjukin jam 6, dan hendra segera pulang dan siaap2 buat ke perjalanan ke pacet.
akhirnya dengan motor Vega ZR nya hendra, kita cus pergi ke pacet.
abis mbulet2 ga jelas, akhirnya kita main ke sungai yang ada diatasnya pacet. hahah
lumayan, ada sumber belerangnya jugak. jadi ada air angetnya :D
nih oleh2 nya :D

abis main dipacet eh ternyata ada kabut tebal dan ga lama kemudian dateng ujan -_______-
terpaksa harus nungguin ditempat orang jualan tape. hahah :D

abis ujan reda, langsung cus naek ke cangar. hahah
keren banget pemandangannya disana :D
---------------------------------------------------------------------
setelah abis turun ke cangar, langsung ke rumahe sahabatku dari SMA satunya jugak, yaitu Fatkhul Efendi. rumahe ada di jalan kedung kuali Gg.5 gatau nommernya. letanknya di kota mojokerto. hahah
setelah nyampek, langsung deh melepas kerinduan. bla bla blaaaa . . .
dan akhirnya aku mintak pendik buat motongin rambutkku. mumpung grates. hahah :D
setelah abis rambut dipotongin. keliatin rada ganteng nih. kece beudtz neuh daah . . :D
hahah
abis  itu langsung deh cus nyarik makan.
daaaan . . setelah jalan sekitar 2 km an. akhirnya ketemu rumahmakan yang ada di daerah sekitar benteng pancasila -____________-
jauh beeeeehh -_______________-

----------------------------------------------------------------

abis makan, eh anak2 malah ngajakin lewat rel kereta api. tak apalah buat nostalgia masa keemasan dulu waktu SMA. hahah


wes wes wes . . ojok akeh2. hahah

langsung cus pulang.
ehh, baru nyampek kedundung udah ujan -_____________-
akhirnya sepanjang perjalanan kita makek jas ujan. alhamdulillah pas nyampek krian udah rada mendingan ujannya dan pulang kerumah dengan keadaan selamat

horeeeeeeeeeeee :D

alhamdulillah :D

Senin, 07 Januari 2013


Menurut William F. Ogburn, perubahan sosial mencakup unsur-unsur kebudayaan baik yang bersifat materiil maupun yang immaterial dengan menekankan pengaruh yang besar dari unsur-unsur kebudayaan yang materiil terhadap unsur-unsur materiil, (Malihah, 101).
Kebudayaan materiil adalah sumber utama kemajuan. Aspek kebudayaan non-materiil harus menyesuaikan diri dengan perkembangan kebudayaan materiil, dan jurang pemisah antara keduanya akan menjadi masalah sosial. Menurut Ogburn, teknologi adalah mekanisme yang mendorong perubahan, manusia selamnaya berupaya memelihara dan meyesuaikan diri dengan alam yang senantiasa diperbaharui oleh teknologi, (Lauer, 1993: 224).

B.     Teori Materialis (Materialist Theory)
Ogburn memusatkan perhatian pada perkembangan teknologi dan ia menjadi terkenal karena mengembangkan ide mengenai ketertinggalan budaya dan penyesuaian tak terelakkan dari faktor-faktor kebudayaan terhadap teknologi.
“Teori ketertingalan kebudayaan” ini melibatkan dua variable yang telah menunjukkan penyeswuaian pada waktu tertentu. Tetapi karena penciptaan atau penemuan baru, salah satu variabel berubah lebih cepat daripada varuiabel lain. Dengan kata lain, bila laju perubahan bagian-bagian yang saling tergantung dari satu kebudayaan tidak sama, maka kita berhadapan dengan kondisi ketertinggalan kebudayaan, dan penyesuaian selanjutnya “kurang memuaskan” dengan tujuan yang dicapai mula-mula, (Lauer, 1993: 209).
Ketidakmampuan menyesuaikan diri yang dikemukakan Ogburn ini berakibat bagi kualitas hidup manusia. Ia menyatakan ada dua jenis penyesuaian sosial. Pertama, penyesuaian antara berbagai bagian kebudayaan. Kedua, enyesuaian antara kebudayaan dan manusia. Masalah penyesuaian manusia terlihat dalam berbagai jenis ketegangan dan perampasan hak, kejahata, pelacuran, dan berbagai masalah sosial lain yang merupakan tanda-tanda ketidakmampuan menyesuaikan diri dalam kehidupan sosial, (Lauer, 1993: 210).
Teori Materialis yang disampaikan oleh William F. Ogburn pada intinya mengemukakan bahwa:
1.      Penyebab dari perubahan adalah adanya ketidakpuasan masyarakat karena kondisi sosial yang berlaku pada masa yang mempengaruhi pribadi mereka.
2.      Meskipun unsur-unsur sosial satu sama lain terdapat hubungan yang berkesinambungan, namun dalam perubahan ternyata masih ada sebagian yang mengalami perubahan tetapi sebagian yang lain  masih dalam keadaan tetap (statis). Hal ini juga disebut dengan istilah cultural lag, ketertinggalan menjadikan kesenjangan antar unsur-unsur yang berubah sangat cepat dan yang berubah lambat. Kesenjangan ini akan menyebabkan kejutan sosial pada masyarakat. Ketertinggalan budaya menggambarkan bagaimana beberapa unsur kebudayaan tertinggal di belakang perubahan yang bersumber pada penciptaan, penemuan dan difusi. Teknologi, menurut Ogburn, berubah terlebih dahulu, sedangkan kebudayaan berubah paling akhir. Dengan kata lain kita berusaha mengjar teknologi yang terus menerus berubah dengan mengadaptasi adat dan cara hidup kita untuk memenuhi kebutuhan teknologi. Teknologi menyebabkan terjadinya perubahan sosial cepat yang sekarang melanda dunia.
3.      Perubahan teknologi akan lebih cepat dibanding dengan perubahan pada perubahan budaya, pemikiran, kepercayaan, nilai-nilai, norma-norma yang menjadi alat untuk mengatur kehidupan manusia. Oleh karena itu, perubahan seringkali menghasilkan kejutan sosial yang yang apada gilirannya akan memunculkan pola-pola perilaku baru, meskipun terjadi konflik dengan nilai-nilai tradisional.

C.      Cara Teknologi Mengubah Kebudayaan
William F. Ogburn mengusulkan suatu pandangan mengenai perubahan sosial yang didasarkan pada teknologi. Menurutnya teknologi mengubah masyarakat melalui 5 proses, yaitu:
1.      Penciptaan (Invensi)
Ogbun mendefinisikan penciptaan sebagai suatu kombinasi unsure dan bahan yang ada untuk membentuk unsure dan bahan yang baru. Kita biasanya hanya memikirkan penciptaan sebagai suatu yang bersifat meteriil seperti computer, namun ada juga yang disebut dengan penciptaan sosial, contoh kapitalisme, birokrasi, korporasi, dll. Sebagaimana telah kita lihat, penciptaan sosial dapat memberikan konsekuensi besar terhadap hubungan dengan orang lain, (Henslin, 2006: 223).
2.      Penemuan (Discovery)
Obgurn mengidentifikasikan penemuan sebagai suatu cara baru melihat kenyataan, sebagai suatu proses perubahan kedua. Kenyataannya sendiri sudah ada, tetapi orang baru melihatnya tetapi orang baru melihatnya untuk pertama kali. Salah satu contohnya adalah penemuan Amerika Utara oleh Columbus, yang membawa konsekuensi besar sehingga mengubah perjalanan sejarah manusia. Contoh ini mengilustrasikan pula suatu prinsip lain, yaitu penemuan hanya akan menciptakan perubahan yang besar apabila muncul pada waktu yang tepat. Kelompok lain, seperti orang Viking, sebelumnya telah menemukan Amerika dalam arti bahwa mereka mengetahui adanya suatu daratan lain, namun pemukiman Viking di Amerika Utara lenyap dalam sejarah dan kebudayaan Norse idak tersentuh oleh penemuan tersebut, (Henslin, 2006: 223).
3.      Difusi (Diffusion)
Ogburn menekankan bahwa difusi penyebaran suatu penciptaan dan penemuan dari suatu wilayah ke wilayah lain, dapat berakibat besar pada kehidupan orang. Contoh: ketika para misionaris memperkenalkan kapak baja kepada orang Aborigin di Australia, hal tersebut mengguncanmgkan seluruh masyarakat Aborigin. Sebelumnya, para lelaki memiliki kendali atas pembuatan kapak, dan mewariskanyya turun temurun dari bapak ke anak. Perempuan harus meminta izin kepada laki-laki untuk dapat menggunakan kapak. Ketika kapak baja menjadi lazim, perempuan pun juga memiliknya, dan para lelaki kehilangan status dan kekuasaan, (dikutip dari Sharp 1995, dalam Henslin, 2006: 223).
Difusi juga mencakup pula penyebaran ide. Sebagaimana ide kewarganegaraan mengubah struktur politik di seluruh dunia. Ide tersebut menggusur raja sebagai sumber otoritas yang tidak dapat digugat. Konsep kesetaraan gender sekarang sedang dikumandangkan di seluruh dunia. Meskipun konsep kesetaraan gender dianggap lazim di beberapa bagian dunia, ide bahwa penolakan hak seseorang atas dasar jenis kelamin adalah suatu tindakan keliru masih merupakan suatu ide yang revolusioner di beberapa kebudayaan.
4.    Akumulasi
Akumulasi dihasilkan dari lebih banyaknya unsur baru yang ditambahkan kepada satu kebudayaan dibanding dengan unsur-unsur lama yang lenyap dari kebudayaan bersangkutan, (Lauer, 1993: 210).
5.    Penyesuaian
Penyesuaian mengacu pada masalah yang timbul dari saling ketergantungan seluruh aspek kebudayaan. Sebagai contoh, penemuan di bidang ekonomi tanpa terelakkan akan mempengaruhi pemerintah menurut cara tertentu, pemerintah terpaksa menyesuaikan diri terhadap situasi yang dihadapkan oleh perubahan ekonomi. Atau teknologi baru akan mempunyai dampak terhadap keluarga, memaksa keluarga menyesuaikan diri dengan perubahan lingkungan, meskipun penemuan teknologi berkaitan langsung dengan keluarga, (Lauer, 1993: 210).

Jumat, 30 November 2012

Paradigma Ilmu Sosiologi

Ragam Aliran Teori Sosiologi Secara sistematis, George Ritzer mengembangkan paradigma dalam disiplin sosiologi (Sosiologi: Ilmu Pengetahuan Berparadigma Ganda/Sociology: A Multiple Paradigm Science, 1980). Ritzer memetakan tiga paradigma besar dalam disiplin sosiologi. Yakni; paradigma fakta sosial, definisi sosial, dan perilaku sosial. Sementara itu Ilyas Ba Yunus dan Farid Ahmad memaparkan (paradigma besar dalam sosiologi) menjadi tiga, yakni; struktural konflik, struktural fungsional, dan interaksi simbolik (Sosiologi Islam dan Masyarakat Kontemporer, 1990).1 Sedangkan ilmuwan mazhab Frankfurt, Jürgen Habermas, membagi menjadi tiga aliran –berdasarkan kepentingannya, yakni; positivis, interpretatif, dan kritis (Kritik Ideologi; Menyingkap Kepentingan Pengetahuan bersama Jurgen Habermas, 2003). Sedikit berbeda dengan Habermas, Poloma membagi sosiologi (kontemporer) menjadi; naturalis, interpretatif, dan evaluatif (Sosiologi Kontemporer, cetakan kelima: 2003). Sosiologi: Ilmu Pengetahuan Berparadigma Ganda Dalam pandangan Ritzer, paradigma fakta sosial memusatkan perhatiannya pada fakta sosial atau struktur dan institusi sosial berskala makro. Model yang digunakan teoritisi fakta sosial adalah karya Emile Durkheim, terutama The Rules of Sociological Method dan Suicide.2 Durkheim menyatakan bahwa fakta sosial sosial terdiri atas dua tipe, yaitu struktur sosial (social structure) dan pranata sosial (social institution)3. Pendahulu Durkheim, August Comte, “Bapak Sosiologi” dan pencetus “positivisme” dalam ilmu-ilmu sosial memiliki pengaruh besar dalam pengembangan paradigma ini. Terutama dalam usaha menerapkan “rumus-rumus” ilmu alam dan biologi ke dalam wilayah kajian ilmu-ilmu sosial. Teori-teori yang mendukung paradigma fakta sosial ini adalah: Teori Fungsionalisme Struktural, Teori Konflik, Teori Sistem, dan Teori Sosiologi Makro.4 Teori Fungsionalisme Struktural dicetuskan oleh Robert K. Merton. Teoritisi struktural fungsional cenderung melihat fakta sosial memiliki kerapian antar hubungan dan keteraturan yang sama dengan yang dipertahankan oleh konsensus umum. Sedangkan teoritisi konflik cenderung menekankan kekacauan antar fakta sosial, serta; gagasan mengenai keteraturan dipertahankan melalui kekuasaan yang memaksa dalam masyarakat.5 Teori sistem (Parson) juga termasuk dalam paradigma ini. Paradigma kedua adalah Definisi Sosial. Analisa Max Weber tentang tindakan sosial (social action) adalah model yang menyatukan para penganut paradigma ini. Bagi Weber, pokok persoalan sosiologi adalah; bagaimana memahami tindakan sosial dalam interaksi sosial, dimana “tindakan yang penuh arti” itu ditafsirkan untuk sampai pada penjelasan kausal. Untuk mempelajari tindakan sosial, Weber menganjurkan metode analitiknya melalui penafsiran dan pemahaman (interpretative understanding) atau menurut terminologinya disebut dengan verstehen.6 Selain Teori Aksi (Weber), Teori Fenomenologis (Alfred Schutz), Interaksionalisme Simbolis (diantaranya; G. H. Mead), etnometodologi (Garfinkel) termasuk dalam aliran ini. Juga, eksistensialisme. Paradigma Perilaku Sosial, ini yang ketiga. Model bagi penganut aliran ini adalah B. F. Skiner. Teori Behavioral Sociology dan Teori Exchange adalah pendukung utama “behaviorisme sosial” ini. Sosiologi model ini menekuni ‘perilaku individu yang tak terpikirkan’. Fokus utamanya pada rewards sebagai stimulus berperilaku –yang diinginkan, dan punishment sebagai pencegah perilaku –yang tidak diinginkan. Berbeda dengan paradigma fakta sosial yang cenderung menggunakan interview-kuesioner dalam metodologinya, juga definisi sosial dengan observasi, paradigma perilaku sosial menggunakan metode eksperimen. Ada dua teori yang masuk dalam “behaviorisme sosial”, yakni; sociology behavioral, dan teori pertukaran. Dari ketiga paradigma itu, Ritzer mengusulkan paradigma integratif. Menggabungkan semua paradigma, dengan unit analisis meliputi semua tingkatan realitas; makro-obyektif (masyarakat, hukum, birokrasi, arsitektur, teknologi, dan bahasa), makro-subyektif (nilai, norma, dan budaya), mikro-obyektif (pola perilaku, tindakan, dan interaksi), dan mikro-subyektif (persepsi, keyakinan; berbagai segi konstruksi sosial tentang realita). Integrasi paradigma ini bukanlah murni pemikiran Ritzer. Sejumlah pendahulunya, Abraham Edel (1959) dan George Gurvitch (1964) telah mengupayakan pengintegrasian makro-mikro ini. Integrasi paradigma Ritzer sebagian dimotivasi oleh kebutuhan untuk membangun sebuah model analisis yang lebih sederhana berdasarkan pemikiran Gurvitch. Dimulai dengan kontinum mikro-makro (tingkat horizontal model Gurvitch) bergerak dari pemikiran dan tindakan individual ke sistem dunia.7 Dalam karya Ritzer Expressing Amerika: A Critique of the Global Credit Card Society, ia menggunakan gagasan C. Wright Mills (1959) tentang hubungan antara persoalan personal tingkat mikro dan personal publik tingkat makro untuk menganalisis persoalan yang ditimbulkan oleh kartu kredit. Kritik Multi-Paradigma Ritzer Penempatan perspektif konflik dalam paradigma yang sama dengan struktural fungsional oleh Ritzer adalah sasaran kritik sosiolog lain. Struktural konflik yang mengasumsikan bahwa masyarakat senantiasa dalam konflik –menuju perubahan- berlawanan dengan struktural fungsional –yang mengasumsikan masyarakat terdiri dari substruktur-substruktur dengan fungsinya masing-masing yang saling terkait dan aktif, dan senantiasa membawa masyarakat menuju keseimbangan. Pendekatan konflik lebih menekankan pada pertentangan dan perubahan sosial, sementara struktural-fungsional pada stabilitas. Kelemahan meta teori Ritzer bermula dari pengabaian terhadap gejolak filsafat ilmu di abad ke-20. Pengabaian inilah yang menyebabkan adanya kontradiksi antar teori dalam satu paradigma, dan di sisi lain, menempatkan secara terpisah antar teori yang berakar pada filsafat yang sama, misalnya; antara fungsionalisme dengan teori pertukaran. Selain itu, paradigma integratif sebagai ‘konsensus’ antar paradigma, atau sebagai paradigma yang lebih lengkap –sehingga lebih akurat sebagai perspektif sosiologi- patut diperdebatkan. Merumuskan teori berparadigma integratif sama halnya memaksakan berbagai aliran untuk bersepakat. Tentu hal ini mendistorsi teori-teori yang ada, dari berbagai paradigma. Karena itu, lebih tepat menempatkan paradigma integratif ini sebagai paradigma tersendiri yang berbeda dengan paradigma-paradigma sebelumnya. Atau, menempatkan sebagai paradigma ke-empat setelah; paradigma fakta sosial, paradigma definisi sosial, dan paradigma perilaku sosial. Metateori Ritzer tak mampu menampung tumbuhnya berbagai teori alternatif baru dewasa ini. Kemunculan teori-teori kritis –dengan ragam alirannya, tak mampu ditampung dalam kerangka metateori Ritzer. Karena itu, pemetaan Ritzer tak lagi tepat untuk menggambarkan perkembangan teori saat ini. Kemunculan teori kritis juga semakin menampakkan bahwa pendekatan tripartit (konflik, struktural-fungsional, dan interaksi sombolik) tak lagi relevan.10 Jurgen Habermas; Empiris-analitis, Historis-hermeneutis, dan Emansipatorik Habermas membagi menjadi tiga aliran –berdasarkan kepentingannya, yakni; positivis, interpretatif, dan kritis. Positivisme untuk kepentingan teknis ilmu-ilmu empiris analitis, humanisme untuk praktis ilmu-ilmu historis hermeneutis, dan emansipatoris untuk ilmu-ilmu kritis. Tiga aliran ini berangkat dari perkembangan filsafat ilmu. Positivisme berakar pada filsafat rasionalisme (Plato) yang dipadukan empirisme (Aristoteles). Humanisme mengambil epistemologi transedental (Immanuel Kant). Sedangkan kritis, bermula dari upaya mencari jalan keluar dari perdebatan panjang positivisme dan humanisme ilmu sosial (Felix Weil, Freiderick Pollock, Carl Grudenberg, Karl Wittgovel, Henry Grossman, dan Mazhab Frankfurt).11 Dalam metodologi, ilmu sosial positivisme menggunakan metode empiris-analitis; menggunakan logika deduksi, teknik-teknik penelitian survai, statistika, dan berbagai teknis studi kuantitatif. Humanisme ilmu sosial menggunakan metode historis-hermeneutis; mencakup logika induktif, dan metode penelitian kualitatif. Ilmu sosial kritis mencakup pendekatan emansipatorik; penelitian partisipatorik dan metode kualitatif. Positivisme Plato menganggap bahwa pengetahuan murni dapat diperoleh dari rasio itu sendiri (a priori). Penerus gagasan ini diantaranya adalah Rene Descartes. Sedangkan Aristoteles menganggap empiris berperan besar terhadap obyek pengetahuan (aposteriori). Filsafat empirisme ini semakin berkembang berkat Thomas Hobbes dan John Locke. Rasionalisme dan empirisme ini berpengaruh besar terhadap perkembangan ilmu alam murni. Dengan menjadikan ilmu alam sebagai pure science, ilmu alam dapat melepaskan diri dari kepentingan-kepentingan, sehingga menjadi obyektif. Adopsi saintisme ilmu alam ke dalam ilmu sosial dilakukan oleh Auguste Comte (1798-1857). Gagasannya tentang fisika sosial yang berlanjut ke penemuan istilah ilmu sosiologi menandai positivisme awal ilmu sosial.12 Sosiologi yang bebas nilai adalah ciri utama pemikiran Comte. Karena itu, positivisme ilmu mengandaikan suatu ilmu yang bebas nilai, obyektif, terlepas dari praktik sosial dan moralitas. Pengetahuan harus terlepas dari kepentingan praktis. Teori untuk teori –bukan praksis. Dengan terpisahnya teori dari praksis, ilmu pengetahuan akan menjadi suci dan universal, dan tercapailah pengetahuan yang excellent. Selain Comte, Durkheim (1858-1917) adalah tokoh yang berpengaruh terhadap pijakan-pijakan dasar sosiologi positivistik, terutama sumbangannya tentang fakta sosial. W.L. Resee (1980) menyatakan bahwa pemikran positivisme pada dasarnya mempunyai pijakan; logiko empirisme, realitas obyektif, reduksionisme, determinisme, dan asumsi bebas nilai. Humanisme Berbeda dengan positivis yang berusaha memproduksi hukum sosial yang berlaku abadi, teori interpretatif (humanis) mencoba memahami tindakan sosial pada level makna –yang relatif, plural, dan dinamis. Semestinya, sosiologi bukan mencoba untuk menjadi mirip fisika sosial, melainkan harus berusaha menemukan makna yang dijalin orang melalui tindakan mereka sehari-hari. Pandangan ini berakar dari epistemologi Kant yang menjelaskan refleksi atas syarat-syarat kemungkinan dari pengetahuan, perkataan dan tindakan kita sebagai subyek yang mengetahui, berbicara dan bertindak, dan bahwa dunia adalah suatu kejadian-kejadian yang tak pernah diketahui arahnya. Ada dunia subyektif yang mengikuti konteks dan proses historis tertentu. Hal itu sekaligus menolak rumusan positivis yang mengasumsikan masyarakat sebagai benda yang diamati (obyek). Penentangan saintisme ilmu ini dipelopori oleh Max Weber dan Wilhelm Dilthey.14 Kemudian disusul Alfred Schutz dengan sosiologi fenomenologinya. Weber menekankan pada fenomena ‘spiritual’ atau ‘ideal’ manusia, yang merupakan khas manusia, dan tak dapat dijangkau oleh ilmu-ilmu alam. Karena itu, sosiologi perlu menekuni realitas kehidupan manusia, dengan cara memahami dan menafsirkan atau verstehen. Sedangkan Dilthey memusatkan perhatiannya pada usaha menemukan struktur simbolis atau makna dari produk-produk manusiawi, seperti; sejarah, masyarakat, candi, dan interaksi. Sementara Schutz memfokuskan pada pengalaman manusia dalam kehidupan sehari-hari. Dunia sehari-hari adalah dunia yang terpenting dan paling fundamental bagi manusia, sekaligus sebagai realitas yang memiliki makna subyektif. Perkembangan fenomenologi Schutz berimplikasi pada lahirnya etnometodologi (Harold Garfinkel), interaksionisme simbolik (Herbert Blumer), dramaturgi (Erving Goffman), dan konstruksi sosial (Peter L. Berger). Kritis Kunci dari teori kritis terletak pada upaya pembebasan (pencerahan). Ilmuwan tidak selayaknya mengacuhkan masyarakat –demi mengejar obyektivitas ilmu. Ilmuwan haruslah menyadari posisi dirinya sebagai aktor perubahan sosial. Karena itu, teori kritis menolak tegas positivisme, dan ilmuwan sosial wajib mengkritisi masyarakat, serta mengajak masyarakat untuk kritis. Sehingga, teori kritis bersifat emansipatoris. Emansipasi mutlak diperlukan, untuk membebaskan masyarakat dari struktur yang menindas. “Kesadaran palsu” senantiasa ada dalam masyarakat, dan itu harus diungkap dan diperangi. Selain itu, ciri lain dari studi kritis adalah interdispliner. Ben Agger menyebutkan ciri-ciri teori kritik sebagai berikut: 1.teori kritis berlawanan dengan positivisme. Pengetahuan bukanlah refleksi atas dunia statis “di luar sana”, namun konstruksi aktif oleh ilmuwan dan teori yang membuat asumsi tertentu tentang dunia yang mereka pelajari sehingga tidak sepenuhnya bebas nilai. Selain itu, jika positivis mengharuskan untuk menjelaskan hukum alam, maka kritis percaya bahwa masyarakat akan terus mengalami perubahan. 2.teori sosial kritis membedakan masa lalu dan masa kini, yang secara umum ditandai oleh dominasi, eksploitasi, dan penindasan. Oleh karena itu, ilmuwan kritis harus berpartisipasi untuk mendorong perubahan. 3.teori kritis berasumsi bahwa dominasi bersifat struktural. Tugas teori sosial kritis adalah mengungkap struktur itu, guna membantu masyarakat dalam memahami akar global dan rasional penindasan yang mereka alami. 4.pada level struktur itu, teori sosial kritis yakin bahwa struktur didominasi oleh kesadaran palsu manusia, dilanggengkan oleh ideologi (Marx), reifikasi (Lukacs), hegemoni (Gramsci), pemikiran satu dimensi (Marcuse), dan metafisika keberadaan (Derrida). 5.teori sosial kritis berkeyakinan bahwa perubahan dimulai dari rumah, pada kehidupan sehari-hari manusia, misalnya; seksualitas, peran keluarga, dan tempat kerja. Disini, teori sosial kritis menghindari determinisme dan mendukung voluntarisme. 6.mengikuti pemikiran Marx, teori sosial kritis menggambarkan hubungan antara struktur manusia secara dialektis. 7.teori sosial kritis menolak asumsi bahwa kemajuan adalah ujung jalan panjang yang dapat dicapai dengan mengorbankan kebebasan dan hidup manusia. Di sisi lain, kritis juga menolak pragmatisme revolusioner. Humanisme: Antara Positivisme dan Kritis Menurut Agger, apakah teori interpretatif lebih dekat kepada teori positif atau kritis, tergantung pada bidang apa orang memberikan tekanan (Agger, 2003: 62). Teoritisi interaksionisme simbolis dari Mazhab Iowa memberikan konsepsi sosiologi interpretatif sebagai struktur berharga dari survai kuantitatif. Bahkan, teori interpretatif dapat memberi kontribusi bagi pemahaman atas keajegan kalau dilakukan secara cukup terarah. Namun konsepsi ini ditentang keras oleh para fenomenolog, etnometodolog, dan konstruksionis sosial, yang menyatakan sosiologi interpretatif sebagai counter atas penelitian survai. Penelitian survai gagal memahami makna yang dijalin masyarakat dalam kehidupan sehari-hari. Selain itu, penelitian survai sebagai turunan dari positivis lebih sebagai ilmu sosial yang bermazhab ilmu fisika prediktif, sehingga hal itu melanggar prinsip inti Neo-Kantianisme. Jauh berbeda dengan Mazhab Iowa, Denzin dan Patricia Clough berpandangan bahwa teori interpretatif telah melebur bersama cultural studies (kajian budaya) dan teori feminis. Menurutnya, teori interpretatif adalah cabang dari teori kritis. Clough –juga Smith (1987)- melacak keterkaitan antara kehidupan sehari-hari dan struktur sosial politik. Hasilnya, kehidupan sehari-hari (termasuk kehidupan dalam rumah tangga) tak bisa dilepaskan dari struktur sosial politik yang menaunginya. Menurut Agger, semakin teoritis teori interpretatif maka semakin kritis (politis) kecenderungannya. Masih menurut Ben Agger, persamaan fundamental antara humanisme dengan kritis terletak pada upaya penentangannya pada positivisme eksistensi hukum sosial. Sementara perbedaan fundamentalnya terletak dalam menyikapi ”kesadaran palsu”. Interpretatif berpandangan bahwa sangat arogan bagi analisis sosial untuk mengandaikan bahwa masyarakat memiliki ”kesadaran palsu” atau ”sejati”. Sedang kritik secara tegas menjelaskan masyarakat memiliki ”kesadaran palsu” –yang mesti dilawan dan dihancurkan. Metodologi Epistemologi yang berbeda menjadikan setiap aliran memiliki metodologi yang berbeda. Secara kasar; positivis menggunakan teknik-teknik kuantitatif, interpretatif dengan kualitatif, dan kritis dengan kualitatif-emansipatorik. Dalam metodologi, ilmu sosial positivisme menggunakan metode empiris-analitis; menggunakan logika deduksi, teknik-teknik penelitian survai, statistika, dan berbagai teknis studi kuantitatif. Humanisme ilmu sosial menggunakan metode historis-hermeneutis; mencakup logika induktif, dan metode penelitian kualitatif. Ilmu sosial kritis mencakup pendekatan emansipatorik; penelitian partisipatorik dan metode kualitatif. Walaupun begitu, secara spesifik masing-masing sosiolog memiliki penekanan yang berbeda-beda –walau masuk dalam satu aliran. Terlebih dalam humanisme dan kritik. Walaupun sama-sama menekuni makna, Garfinkel menggunakan etnometodologi yang memiliki perbedaan dengan fenomenologi Schutz. Berger, yang membidik makna dalam skala lebih luas, menggunakan studi sejarah sebagai bagian dari metodologinya. Posisi Teori Berger Perspektif Berger tak dapat dilepaskan dari situasi sosiologi Amerika era 1960-an. Saat itu, dominasi fungsionalisme berangsur menurun, seiring mulai ditanggalkannya oleh sosiolog muda. Sosiolog muda beralih ke perspektif konflik (kritis) dan humanisme. Karena itu, gagasan Berger yang lebih humanis (Weber dan Schutz) akan mudah diterima, dan di sisi lain mengambil fungsionalisme (Durkheim) dan konflik (dialektika Marx). Berger mengambil sikap berbeda dengan sosiolog lain dalam menyikapi ‘perang’ antar aliran dalam sosiologi. Berger cenderung tidak melibatkan dalam pertentangan antar paradigma, namun mencari benang merah, atau mencari titik temu gagasan Marx, Durkheim dan Weber. Benang merah itu bertemu pada; historisitas. Selain itu, benang merah itu yang kemudian menjadikan Berger menekuni makna (Schutz) yang menghasilkan watak ganda masyarakat; masyarakat sebagai kenyataan subyektif (Weber) dan masyarakat sebagai kenyataan obyektif (Durkheim), yang terus berdialektika (Marx). 

Jumat, 16 November 2012

George Simmel




Simmel merupakan seorang tokoh yang lahir di Berlin pada tahun 1858. George simmel merupakan seorang anak dari pedagang yahudi kaya yang masuk Kristen. Simmel tumbuh dan berkembang menjadi anak yang mandiri, Ayah simmel meninggal ketika ia masih kecil, dan hubungan dia dengan ibunya tidak terlalu memiliki kedekatan.
Simmel merupakan sosok intelektual yang cemerlang. Simmel menerima gelar doctor dari Universitas Berlin pada tahun 1881, dan mulai mengakar di sana pada tahun 1885 . Dia juga merupakan sosok pengajar yang cemerlang terkait pengetahuan dari berbagai hal, dan konsep mengajarnya. Ketika dia mengadakan perkuliahan yang menghadirinya tidak hanya mahasiswa, tetapi seringkali kaum elit intelektual berlin menghadirinya. Hal itu dikarenakan kemampuan intelektual yang dimiliki simmel membuat orang lain kagum.

George Simmel
Meskipun pengetahuannya luas, kecemerlangan mengajar dan mengadakan perkuliahan, serta mutu tulisannya yang baik, pengakuan professional terhadap simmel selama kehidupan profesionalnya itu sangatlah minim. Selama lima belas tahun dia tetap berposisi sebagai dosen privat, yakni dosen yang tidak dibayar yang gajinya berdasarkan pembayaran mahasiswa. Kemudian dia menerima gelar professor luar biasa, tetapi hanya merupakan kehormatan belaka tanpa kompensasi. Simmel akhirnya meninggalkan universitas berlin tahun 1914, untuk menerima posisi sebagai professor penuh pada universitas Strasbourg, namun malang kehidupan akademisnya segera terhenti Karena pecah perang pada saat itu.
Selama karir intelektualnya simmel mengemukakan berbagai teori.Simmel menjadi terkenal pada mulanya karena pemikirannya tentang bentuk-bentuk interaksi, selain itu simmel juga mengemukakan teorinya The Philosophy Of Money dan tragedi kebudayaan. Teori-teori dari George simmel tersebut akan saya bahas dan uraikan per poin, agar dapat saya jelaskan dengan lebih rinci.
1.   Teori Interaksi.
Simmel memandang bahwa interaksi itu memiliki peran yang penting dalam kehidupan. Simmel juga melihat bahwa salah satu tugas sosiologi adalah memahami interaksi antar individu. Salah satu teori yang dikemukakan oleh simmel dan masih terkait dengan interaksi adalah Teori Simmel mengenai masyarakat sebagai proses interaksiMenurut Pandangannya, masyarakat dapat terbentuk karena adanya interaksi, bukan adanya kelompok orang yang hanya diam. Menurut Simmel dalam interaksi tidak memementingkan berapa jumlah orang yang berinteraksi, yang penting adalah adanya interaksi. Jadi, melalui interaksi timbal balik, dimana individu saling berhubungan dan saling mempengaruhi, maka masyarakat itu akan muncul.

2.   The Philosophy Of Money
Karya yang juga cukup terkenal juga dari simmel adalah The Philosophy Of Money (Teori filosofi Uang). Dalam Karyanya ini Simmel memusatkan perhatian pada kemunculan perekonomian uang dalam masyarakat modern yang terpisah dari individu dan mendominasi individu.
Menurut pandangan Simmel kultur dalam kehidupan masyarakat modern dan seluruh komponen-komponen nya yang beraneka ragam dan semakin kompleks itu (termasuk ekonomi uang) akan berkembang, dan begitu sudah berkembang maka arti penting atau peran individu akan mulai menurun. Misalnya, ketika tekhnologi industry yang menyertai perkembangan ekonomi berkembang kearah yang lebih modern  dan semakin canggih, maka Skill tenaga kerja secara individual makin kurang penting, karena sudah mulai tergantikan dan tercover oleh mesin.
pekerja pabrik dan mesin pabrik
  Secara Lebih umum lagi, Simmel juga berpendapat bahwa dalam kehidupan modern perkembangan kultur yang lebih luas menyebabkan peran individu akan semakin menurun.
Dalam karyanya The Philosophy Of Money, Simmel menyatakan bahwa uang dapat menyebabkan perubahan pola interaksi. Misalnya, pada zaman dahulu, ketika belum terdapat uang maka orang akan melakukan kegiatan ekonomi (jual beli) dengan cara barter, tetapi setelah kemunculan uang sebagai alat tukar, masyarakat merasa lebih mudah melakukan kegiatan ekonomi dan transaksi perdagangan, karena membawa uang jauh lebih mudah dan praktis dibandingkan dengan cara lama yaitu barter yang dianggap lebih rumit dan standarnya yang tidak jelas.
Transaksi menggunakan uang
        Pertukaran ekonomi menurut Simmel juga merupakan suatu interaksi sosial. Ketika transaksi moneter menggantikan barter, maka terjadi perubahan penting dalam bentuk interaksi atau pelaku sosial dalam kehidupan masyarakat.
Dalam pengamatan Simmel, manusia modern telah menjadikan uang sebagai tujuan utama, padahal sebetulnya uang hanya merupakan sarana. Bersamaan dengan itu, muncullah dampak-dampak negative terhadap individu, seperti sinisme. Dampak ekonomi lainnya adalah reduksi nilai-nilai dalam kehidupan manusia, misalnya : banyak manusia yang menilai sesuatu banyak berdasarkan uang, dan menganggap uang adalah segala-galanya. Selain menunjukkan dampak negative dari fenomena uang, Simmel juga menegaskan semua yang terkait dengan uang termasuk dampak negative nya juga tergantung pada manusia itu sendiri. Akan tetapi dia juga mengatakan bahwa uang hanyalah sarana, bukan tujuan utama.
        Terkait dengan interaksi, Uang juga memungkinkan orang untuk mengatasi dan memenuhi kebutuhannya dalam transaksi ekonomi. Dan pada akhirnya hal tersebut juga akan memicu seseorang untuk terlibat interaksi dengan orang lain  dalam usahanya memenuhi kebutuhannya yang dilakukan dengan cara bertransaksi dengan menggunakan uang.
        Uang juga dapat mempengaruhi dan mempertinggi kebebasan individu,  terlebih bagi mereka yang mempunyai cukup uang. Gaya hidup individu mulai  mengalami pergeseran, tidak lagi terlalu banyak ditentukan oleh kebiasan dan tradisi , akan tetapi Gaya hidup individu lebih ditentukan karena sumber-sumber keuangan yang mereka miliki untuk membeli perlengkapan-perlengkapan yang perlu untuk gaya hidup yang sudah mereka tentukan.          
Jadi Secara garis besar, dalam karyanya Philosophy Of Money Simmel mencoba menganalisis mengenai pengaruh adanya uang sebagai alat tukar terhadap perubahan gaya hidup manusia.
3.   Tragedy kebudayaan
Sebab utama meningkatnya kesenjangan ini adalah meningkatnya pembagian kerja di masyarakat modern(Oakes, 1928:19). Meningkatnya spesialisasi dalam kehidupan masyarakat mengarah pada perbaikan kemampuan untuk menciptakan beragam komponen dunia budaya. Namun, pada saat yang sama, individu yang terspesialisasi kehilangan pemahaman tentang kebudayaan total dan kehilangan kemampuan untuk mengendalikannya.
Ketika kebudayaan obyektif tumbuh dan mulai mengalami perubahan, kebudayaan individu sirna. Misalnya : Tumbuhnya teknologi dan permesinan, seringkali tidak disertai dengan kecakapan kemampuan pekerja individu dan ketrampilan yang dibutuhkan, justru seringkali terjadi penurunan atau ketidaksesuaian skill dari para pekerja. Contoh lain yaitu bahasa sebagai keseluruhan totalitas semakin berkembang begitu pesat, namun kemampuan linguistic individu tertentu justru mengalami kemerosotan.
Meskipun pada akhirnya terjadi ekspansi besar-besaran ranah intelektual, pada kenyataannya semakin sedikit individu yang tampaknya layak mendapatkan label ’intelektual’ termasuk dalam kaitannya penguasaan suatu skill tertentu
Ekspansi besar-besaran kebudayaan obyektif membawa efekcukup besar pada pola dan irama kehidupan. Secara umum, ketimpangan yang menjadi ciri khas dari epos awal ini meningkat dan di dalam masyarakat modern digantikan oleh pola kehidupan yang jauh lebih konsisten. Misalnya : terjadinya peningkatan kebudayaan, yaitu begitu tingginya peningkatan kebudayaan modern. Contoh lain, misalnya : sumber informasi yang dulu masih sulit didapat dan dijangkau oleh masyarakat, sekarang menjadi lebih mudah dan tersedia sepanjang waktu karena tersedianya internet,buku dan majalah.
Birgitta Nedelmann menjelaskan Tragedy kebudayaan dalam konteks yang lebih luas, dia menawarkan tafsir menarik tentang tragedy kebudayaan dalam konteks yang disebutnya sebagai tiga masalah kebudayaan Simmel :
a.     Masalah pertama adalah nestapa budaya. Ini adalah akibat dari konflik antara individu sebagai pencipta kebudayaan dengan bentuk-bentuk budaya yang  bersifat tetap dan tanpa batasan waktu yang mereka hadapi. Kalau individu harus memenuhi kebutuhannya dengan menciptakan bentuk-bentuk budaya, pemenuhan tersebut semakin tidak mungkin terjadi, paling tidak sebagian karena system budaya… tertinggal di belakang perkembangan kreativitas manusia’ ( Nedelmann, 1991:175). Respon individu terhadap dilemma ini adalah dengan mawas diri menyepi. Hal ini mengarah pada individualisasi kreativitas budaya. Namun nestapa terjadi karena kreativitas bagi seseorang tidak pernah memuaskan sebagaimana penciptaan bentuk budaya yang lebih besar.
b.    Masalah kedua adalah kerancuan budaya. Dalam hal ini Simmel membedakan gaya denganseni. Gaya terkait dengan generalitas dengan ‘ elemen-elemen objek artistic yang sama’. Gaya melibatkan objek yang diciptakan oleh pengrajin, misalnya kursi atau gelas. Sebaliknya seni terkait dengan singularitas, dengan ‘ keunikan dan individualitas’. Namun manusia modern’ menciptakan ketidakteratuan di ranah estetik’ dengan melihat ‘ objek kerajinan seolah-olah sebagai karya seni, namun ketika keduanya dicampurkan kemungkinan bagi terciptanya keseimbangan individu pada akhirnya berubah menjadi kondisi ideal yang tidak dapat direalisasikan.
c.     Masalah ketiga adalah masalah tragedy kebudayaan. Nedelmann menawarkan tafsir menarik terhadap gagasan ini. Ia menujukkan ini adalah satu tragedy, ketimbang sekedar kesedihan karena kehancuran social adalah akibat niscaya dari logika imanen
Nah pemaparan diatas adalah materi tentang beberapa teori yang dikemukakan George Simmel. Semoga postingan ini dapat membawa manfaat bagi kita semua.