Minggu, 11 November 2012

Max Weber



Max Weber lahir di Erfurt, Jerman pada tanggal 21 april 1864. Ia dilahirkan dari latar belakang keluarga yang berbeda. Ayahnya adalah seorang birokrat  yang menempati posisi penting dan merupakan bagian dari kemapanan politik saat itu. Sedangkan ibunya adalah seorang Calvinis yang religius dan tidak banyak terlibat dalam kenikmatan duniawi suaminya. Perbedaan ini kemudian menimbulkan ketegangan dan membawa dampak bagi Max Weber.
Pada usia 18 tahun, Max Weber kuliah di Universitas Heidelberg. Disana Weber bergabung dengan organisasi kepemudaan yang didalamnya penuh dengan persaingan. Perkembangan sosial pada diri Weber Nampak disana. Ia di Heidelberg hingga usia 21 tahun, karena ia ikut wajib militer hingga tahun 1884.
Pada tahun 1884, Ia kembali ke Berlin dan rumah orang tuanya untuk menempuh kuliah di Universitas Berlin. Ia menyelesaikan studinya disana selama 8 tahun, meraih gelar doctor, menjadi pengacara dan dosen di Universitas Berlin. Disana ia menjadi seorang yang giat bekerja.
Pada tahun 1896, ia berhasil menjadi Profesor ekonomi di Heidelberg. Namun ia mulai mengalami keruntuhan mental pada tahun 1897, saat ayahnya meninggal dunia setelah bertengkar dengan dirinya. Ia berada dalam kondisi yang hampir mati suri. Namun ia pulih kembali pada tahun 1903 dan pada 1904 ia kembali ke dunia akademik. Pada 1905 ia menerbitkan hasil karyanya yang berjudul The Protestant Ethic and The Spirit of Capitalism. Selain itu, ia juga menulis karya yang berjudul Methodology of the Social Sciences pada tahun yang sama[2].
Jasa Max Weber tidak hanya berupa tulisan, ia juga telah berhasil mendirikan Masyarakat Sosiologi Jerman pada tahun 1910. Ia juga aktif secara politik dan menulis karya (esai) tentang isu-isu yang berkembang pada masa itu.
Sejarah & Sosiologi[3]
Sejarah & sosiologi merupakan 2 hal berbeda yang harus dipelajari sebelum membahas metodologi. Ada perbedaan mendasar diantara kedua hal tersebut adalah:
  1. Sosiologi berusaha merumuskan konsep tipe & keseragaman umum proses-proses empiris.
  2. Sejarah berorientasi pada analisis kausal & penjelasan atas tindakan, struktur, dan kepribadian individu yang memiliki signifikansi kultural.
Meskipun kedua hal tersebut berbeda, Weber mampu memadukan 2 hal tersebut. Sehingga, sosiologi disini berorientasi pada pengembangan konsep sehingga ia dapat menganalisis kausal terhadap fenomena sejarah. Berdasarkan hal itu, Weber mendapat julukan sebagai sosiolog historis.
Terkait hal ini, Weber percaya bahwa sejarah terdiri dari berbagai fenomena spesifik yang tidak akan habis. Untuk mempelajari fenomena ini harus melalui beragam konsep yang diciptakan untuk menunjang penelitian di dunia nyata. Disinilah sosiologi memiliki peran sebagai pengembang konsep-konsep tersebut yang digunakan sejarah dalam menganalisa kausalitas tentang fenomena sejarah yang spesifik.
Verstehen (Pemahaman Subyektif)[4]
Istilah ini diartikan oleh Weber sebagai suatu penggunaan intuisi oleh peneliti, yang melibatkan penelitian yang ketat & sistematis serta melalui prosedur studi yang rasional. Verstehen merupakan suatu metode yang dilakukan Weber untuk memperoleh pemahaman yang valid (sah) tentang arti-arti subyektif dari suatu tindakan sosial yang memerlukan rasa empati untuk memahami arti-arti subyektif tersebut[5].
Kausalitas [6]
Dalam hal ini, Weber cenderung berpendapat bahwa studi sebab-sebab fenomena sosial berada pada ranah (ruang lingkup) sejarah, bukan pada sosiologi. Disini, kausalitas diartikan sebagai suatu kemungkinan suatu kejadian diikuti atau disertai oleh kejadian yang lain. Dalam bekerja, Weber menggunakan pendekatan multikausal, dimana sekumpulan pengaruh interaktif (akibat interaksi) sering kali menjadi suatu faktor kausal (penyebab) yang efektif.
Tipe-tipe Ideal [7]
Hal ini merupakan salah satu sumbangan terpenting terhadap sosiologi kontemporer dari Weber. Tipe ideal adalah suatu konsep (tolok ukur) yang dikonstruksi oleh ilmuan sosial, menurut minat, orientasi teoretisnya, dalam rangka memahami ciri utama fenomena sosial dan membantu dalam melakukan penelitian empiris maupun memahami aspek tertentu dari dunia sosial.
Selain itu, tipe-tipe ideal juga dapat diartikan sebagai perangkat heuristik yang digunakan dalam irisan sejarah.
Adapun macam dari tipe ideal antara lain:
  1. Tipe Ideal Historis ( Terkait dengan fenomena yang ditemukan pada epos sejarah tertentu, contoh : pasar kapitalis modern).
  2. Tipe Ideal Sosiologis Umum ( Terkait dengan fenomena yang bersinggungan dengan beberapa periode historis dan masyarakat, contoh : birokrasi).
  3. Tipe Ideal Tindakan ( Merupakan tipe tindakan murni yang didasarkan pada motivasi pelaku, contoh: tindakan afektual, tindakan yang berkaitan dengan perasaan).
  4. Tipe Ideal Struktural ( merupakan bentuk sebab dan akibat dari tindakan sosial, contoh : dominasi oleh kalangan elit).
Nilai
Dalam menjelaskan konsep nilai, Weber memfokuskan pada hubungan nilai terhadap ajaran dan penelitian. Namun ia memisahkan antara nilai dengan fakta.
Dalam hubungan antara nilai dengan penelitian, nilai-nilai itu harus dibatasi hanya sampai sebelum penelitian sosial. Hal ini dikarenakan, nilai-nilai itu nanti dapat mempengaruhi pemilihan apa-apa yang akan dikaji dalam penelitian. Hal ini bertujuan agar proses tetap berjalan pada prosedur reguler penelitian ilmiah
Sosiologi
Weber termasuk tokoh yang menentang organisisme (yang terdapat pada sosiologi evolusi skala besar pada saat itu). Hal itu dikarenakan, ia lebih berpegang pada metode individualis, meskipun ia mengakui bahwa tidak mungkin menghapus gagasan kolektivitas dari sosiologi. Dengan kata lain, konsep-konsep kolektif itu merupakan tipe ideal dari sosiologi[8].
Ciri-ciri (karakter) Sosiologi[9] :
a. Merupakan disiplin ilmu yang membutuhkan perumusan yang ketat.
b. Bukan hanya sekedar bentuk-bentuk (forms), melainkan juga sebagai suatu aksi sosial.
c. Berkaitan dengan persoalan makna, tetapi memerlukan prosedur ilmiah.
d. Merupakan ilmu yang mengupayakan pemahaman interpretatif tentang aksi soal, dengan tujuan untuk mengeluarkan eksplanasi kausal mengenai aksi sosial dan dampaknya.
Menurut Weber, sosiologi adalah ilmu yang fokus pada pemahaman interpretif atas tindakan sosial dan pada penjelasan kausal (penjelasan mengenai penyebab dari sesuatu) atas proses dan konsekuensi tindakan tersebut[10]. Selain itu, Weber juga mensyaratkan bahwa sosiologi itu harus:
a. Merupakan sebuah ilmu.
b. Memfokuskan perhatian pada kausalitas (dalam hal ini Weber juga memadukan antara sosiologi dengan sejarah).
c. Menggunakan pemahaman interpretif (yang bersifat menafsirkan).
Tindakan Sosial[11]
Dalam hal ini, Weber membedakan antara tindakan dan perilaku yang murni reaktif. Perilaku reaktif ditafsirkan sebagai perbuatan otomatis yang tidak melalui proses pemikiran. Perilaku muncul setelah ada stimulus (rangsangan) dan terdapat jeda waktu diantara keduanya. Namun Weber tidak memfokuskan perhatiannya pada masalah ini (masalah perilaku).
Weber lebih memfokuskan pada masalah tindakan. Tindakan ditafsirkan sebagai suatu orientasi perilaku yang dapat dipahami secara subyektif hanya hadir sebagai perilaku individual. Dalam hal ini, ia juga berpendapat bahwa sosiologi tindakan berkutat (hanya fokus)  pada individu, bukan pada suatu kolektivitas kelompok. Selain itu, ia juga mengelompokkan tindakan kedalam 4 bentuk. 4 bentuk tersebut adalah:
Tindakan rasionalitas sarana – tujuan (Tindakan Rasional-Instrumental[12])
Yaitu suatu tindakan yang ditentukan oleh harapan terhadap perilaku obyek dalam lingkungan dan perilaku manusia lain, yang mana harapan ini nanti merupakan syarat untuk mencapai tujuan melalui upaya dan perhitungan yang rasional. Contoh : seseorang belajar agar pandai, untuk meraih status sosial yang lebih tinggi kita perlu pendidikan.
Tindakan rasionalitas nilai

Yaitu suatu tindakan yang ditentukan oleh keyakinan penuh kesadaran akan nilai perilaku-perilaku etis, estetis, religius maupun bentuk perilaku lain yang terlepas dari prospek keberhasilannya. Contoh : seseorang bekerja sesuai dengan bidang keahliannya, seseorang berpakaian rapi dilandasi nilai-nilai etika.
Tindakan Afektif
Yaitu suatu tindakan yang ditentukan oleh kondisi emosi si aktor tersebut. Jenis tindakan ini merupakan suatu tingkah laku yang berada di bawah dominasi langsung perasaan-perasaan individu[13]. Weber tidak lebih jauh dalam mengulas jenis tindakan yang ini. Contoh : sedih, marah, bangga.
Tindakan Tradisional
Yaitu tindakan yang ditentukan oleh cara bertindak aktor yang biasa dan telah lazim dilakukan. Selain itu, tindakan jenis ini mencakup tingkah laku berdasarkan kebiasaan yang timbul dari praktik-praktik yang telah mapan & menghormati otoritas yang telah ada[14]. Contoh : membungkuk saat melintas didepan orang yang lebih tua.
Struktur Sosial
Dalam pandangan Weber, struktur sosial didefinisikan dalam istilah-istilah yang bersifat probabilistik (kemungkinan) dan bukan sebagai kenyataan empirik yang terlepas dari aspek individu.
Kelas, Status, dan Partai[15]
Menurut Weber, masyarakat terstratifikasi menurut kriteria ekonomi, status dan kekuasaan. Akibatnya, individu dapat menempati tingkat yang tinggi di satu atau dua dimensi (bidang) namun di dimensi lain berada pada posisi yang rendah.
Kelas, menurut Weber, bukanlah komunitas, namun kelas itu merupakan kelompok individu yang dalam situasi bersama mereka menjadi basis dari tindakan suatu kelompok. Kelas hadir pada suatu tatanan ekonomi. Weber juga memberikan 3 syarat munculnya situasi kelas:
  1. Sejumlah individu memiliki kesamaan komponen kausal spesifik peluang hidup mereka.
  2. Komponen ini hanya direpresentasikan oleh kepentingan ekonomi (penguasaan barang, peluang memperoleh pendapatan).
  3. Direpresentasikan menurut syarat-syarat komoditas atau pasar tenaga kerja.
Status, menurut Weber, merupakan setiap komponen khusus kehidupan manusia yang ditentukan oleh estimasi (penilaian) sosial tentang positif atau negatif, dan derajat martabat tertentu. Status hadir pada suatu tatanan sosial. Status biasanya terkait dengan gaya hidup individu. Individu yang berada pada status sosial yang atas akan berbeda dengan gaya hidup individu pada status sosial rendah.
Partai, menurut Weber, memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
1. Merupakan struktur yang berusaha menciptakan dominasi / meraih posisi dominan.
2. Merupakan elemen yang paling teratur dalam sistem stratifikasi Weber.
3. Tidak hanya mencakup hal-hal yang ada dalam Negara, tetapi juga dalam kelompok-kelompok sosial.
4. Berorientasi pada kekuasaan.
Struktur Otoritas[16]
Menurut Weber, struktur otoritas ada pada setiap institusi sosial. Dalam menganalisis stuktur otoritas, Weber selalu mengawali dengan asumsinya tentang hakikat dan sifat dasar tindakan. Dalam sebuah struktur otoritas, dapat dijumpai suatu dominasi. Dominasi adalah suatu probabilitas (kemungkinan) dipatuhinya perintah oleh semua orang. Sedangkan  otoritas itu merupakan bentuk dominasi yang sah. Adapun bentuk struktur otoritas adalah:
A. Struktur Otoritas Legal
Struktur otoritas ini tumbuh dari legitimasi sistem rasional-legal. Dalam struktur otoritas ini, Weber memfokuskan pada bentuk struktur berupa birokrasi. Yang mana birokrasi ini memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
1. Merupakan gabungan dari bagian-bagian resmi yang memiliki fungsi resmi dan terikat oleh suatu aturan tertentu.
2. Setiap bagian memiliki ruang lingkup kompetensi yang spesifik.
3. Bagian-bagian tersebut terorganisasi kedalam sebuah sistem hierarki.
4. Dalam bagian-bagian tersebut terdapat suatu kualifikasi (syarat) teknis yang harus dipenuhi oleh individu yang akan masuk kedalamnya (menjadi staf didalamnya).
5. Sarana produksi tidak dimiliki oleh staf. Staf hanya memanfaatkan sarana tersebut untuk melakukan pekerjaannya.
6. Pegawai tetap menjadi bagian dari organisasi, namun tidak boleh mengubah posisi.
7. Tindakan, keputusan, dan aturan administratif dirumuskan & dirancang secara tertulis.
B. Struktur Otoritas Tradisional
Struktur otoritas ini didasarkan pada klaim pemimpin & keyakinan pengikutnya yang didasarkan pada anggapan bahwa adanya kelebihan dalam kesucian aturan dan kekuasaan bagi orang yang telah berusia tua. Dalam sistem ini, pemimpin bukan penguasa superior, melainkan hanya personal.
Menurut Weber, Struktur otoritas tradisional memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
1.      Kompetensi dalam jabatan tidak didefinisikan secara jelas, dan cenderung terikat pada tatanan impersonal (netral).
2.      Tidak memiliki hubungan yang bersifat rasional antara pihak yang berada pada posisi superior dengan pihak yang berada pada posisi inferior.
3.      Tidak memiliki hierarki (susunan tingkatan kekuasaan) yang jelas.
4.      Tidak ada sistem aturan bagi penunjukan dan promosi yang didasarkan pada kontrak bebas.
5.      Pelatihan teknis bukanlah persyaratan utama  untuk meraih jabatan tradisional.
6.      Jabatan tidak diberikan gaji dalam bentuk uang.
Adapun bentuk otoritas tradisional pertama kali adalah bentuk patrimonialisme, yang merupakan dominasi tradisional dengan administrasi serta kekuatan militer menjadi instrument penguasa yang bersifat personal. Kemudian dalam perkembangannya, memiliki 2 bentuk, yaitu Gerontokrasi (pemerintahan yang dijalankan oleh orang/kalangan tua) dan Patriarkalisme primer (kepemimpinan yang diwariskan). Dan yang paling modern adalah feodalisme.
Dalam memandang struktur otoritas tradisional, Weber berpendapat bahwa struktur otoritas tradisional itu merupakan penghambat dalam perkembangan rasionalitas. Dari sini pula nanti Weber akan menarik kesimpulan bahwa struktur dan praktik otoritas tradisional menjadi penghambat bagi kelahiran struktur ekonomi rasional. Yang mana struktur ekonomi rasional ini identik dengan kapitalisme.
C. Struktur Otoritas Kharismatik[17]
Dalam struktur otoritas ini, pemimpin diposisikan sebagai pihak yang memiliki kharisma. Padahal belum tentu ia memiliki kelebihan yang menonjol dan ia hanya manusia biasa. Namun, yang penting untuk diperhatikan adalah adanya upaya pemisahan atau pembedaan antara seorang pemimpin dari orang biasa dan diperlakukan seolah-olah ia memiliki kemampuan diluar kemampuan manusia biasa pada umumnya.
Dalam Struktur otoritas ini, legitimasinya terletak pada ketaatan dan kesetiaan terhadap seorang individu yang dipandang memiliki karakter yang patut diteladani, heroik dan memiliki kelebihan yang belum tentu dimiliki orang lain. Menurut Weber, karisma dan otoritas karismatik menunjuk pada suatu sifat tertentu dari seorang individu, yang karena sifatnya ini dia dipandang luar biasa dan diperlakukan sebagai seorang yang memiliki kemampuan-kemampuan yang belum tentu dimiliki oleh orang lain.
Agama, Kapitalisme, dan Rasionalisasi
Sebagian besar karya Weber, merupakan karya pada level sosial-struktural dan kultural, diyakininya dipengaruhi oleh perubahan struktur sosial dan institusi sosial. Karya-karyanya banyak yang terfokus pada pengaruh keyakinan agama terhadap tindakan[18]. Dalam melakukan penelitian sejarah lintas budaya, ia memiliki beberapa perhatian utama, antara lain:
  1. Hubungan antar berbagai agama dunia dengan perkembangan sistem ekonomi kapitalis yang hanya terjadi di barat.
  2. Sistem gagasan agama-agama di dunia, kapitalisme, dan rasionalisasi sebagai nilai dan norma sistem modern.
  3. Struktur agama dan masyarakat tempat agama tersebut berkembang, yang menurutnya dapat menghambat rasionalisasi dan aspek-aspek struktural kapitalisme.
Kritik Terhadap Weber
Ada 4 kritikan utama terhadap Weber, yaitu[19]:
  1. Gagasan Weber tentang Verstehen. Disatu sisi, Verstehen tidak bisa hanya berarti sebuah intuisi subyektif, karena jika demikian, maka Verstehen tidak akan ilmiah. Namun disisi lain, sosiolog tidak dapat begitu saja menyatakan makna obyektif suatu fenomena sosial. Ia juga tidak bisa menjelaskan bagaimana kedua gagasan itu bisa muncul.
  1. Weber tidak menawarkan teori makrososiologi yang utuh. Hal ini terlihat dari sikap Weber yang mereduksi kelas menjadi sekumpulan orang yang berada pada situasi ekonomi yang sama dan struktur politik menjadi penerimaan dominasi karena adanya legitimasi yang diakui melalui sudut pandang rasionalitas, kharisma maupun tradisi.
  2. Weber tidak memiliki teori yang kritis. Banyak ahli yang berpendapat bahwa teori Weber tidak bisa digunakan untuk menunjukan kesempatan untuk melakukan perubahan yang konstruktif.
  3. Pesimisme sosiologi Weber. Hal ini terlihat dari keyakinannya terhadap arti penting makna individual, namun karya substantifnya (tentang rasionalisasi dan dominasi) menunjukan bahwa ia sedang terjebak, kehilangan makna.
Selain itu, ada kritikan lain terhadap Weber, yaitu antara lain:
  • Weber dituduh telah membuka jalan yang khas politis modern, seperti fasisme, yang menyebarluaskan organisasi efisien dan cita-cita irrasional. Hal ini dikarenakan, Weber menekankan peranan nilai-nilai yang sangat relativistis dari asal-usul kharismatis[20].
  • Dari segi tipe-tipe ideal, yang mana nantinya akan menghasilkan hipotesis-hipotesis kausal, Weber hingga saat ini belum bisa membuktikan manfaat dari metode penyelidikan sosiologis-nya[21].
  • Teori Max Weber, menurut banyak kalangan, merupakan teori-teori klasik sehingga banyak teori yang tidak cocok dengan keadaan modern.
  • Weber tidak mengakui hukum secara normatif. Padahal dalam konsep hukum, selain bersumber dari gejala sosial masyarakat juga hukum bersifat normatif. Jika salah satu tidak ada, maka implementasi dari suatu hukum akan tidak sempurna.
  • Selain itu weber hanya memandang norma sebagai kenyataan di masyarakat saja. Jika tidak ada kelakuan dari masyarakat maka tidak ada norma yang berlaku.
DAFTAR PUSTAKA
George Ritzer & Douglas J. Goodman, Teori sosiologi. 2008. Yogyakarta : Kreasi Wacana.
Campbell, Tom. Tujuh Teori Sosial (Sketsa, Penilaian, Perbandingan). 1994. Yogyakarta : Kanisius.
Wardi Bachtiar, M.S. Prof.Dr. Sosiologi Klasik Dari Comte hingga Parsons. 2006. Bandung : PT Remaja Rosdakarya.
Johnson, Doyle Paul. Teori Sosiologi Klasik dan Modern. 1986. Jakarta : PT Gramedia.
Jones, Pip. Pengantar Teori-teori Sosial (dari Teori Fungsionalisme hingga Post Modernisme). 2009. Jakarta : Yayasan Obor Indonesia.

[1] George Ritzer & Douglas J. Goodman, Teori sosiologi. 2008. Yogyakarta : Kreasi Wacana. Halaman 124-125.
[2] Campbell, Tom. Tujuh Teori Sosial (Sketsa, Penilaian, Perbandingan). 1994. Yogyakarta : Kanisius. Halaman 199-200.
[3] George Ritzer & Douglas J. Goodman, Teori sosiologi. 2008. Yogyakarta : Kreasi Wacana. Halaman 122 – 126.
[4] Ibid. Halaman 126 – 128.
[5] Doyle Paul Johnson. Teori Sosiologi Klasik dan Modern. 1986. Jakarta : PT Gramedia. Halaman 216 – 217.
[6]. George Ritzer & Douglas J. Goodman, Teori sosiologi. 2008. Yogyakarta : Kreasi Wacana. Halaman 128 – 129.
[7]George Ritzer & Douglas J. Goodman, Teori sosiologi. 2008. Yogyakarta : Kreasi Wacana. Halaman 129 – 132.
[8] Ibid. Halaman 135 – 136.
[9] Wardi Bachtiar, M.S. Prof.Dr. Sosiologi Klasik Dari Comte hingga Parsons. 2006. Bandung : PT Remaja Rosdakarya. Halaman 268.
[10] Campbell, Tom. Tujuh Teori Sosial, sketsa, penilaian ,perbandingan. 1994. Yogyakarta : Kanisius. Halaman 201.
[11]George Ritzer & Douglas J. Goodman, Teori sosiologi. 2008. Yogyakarta : Kreasi Wacana. Halaman 136 – 138.
[12] Johnson, Doyle Paul. Teori Sosiologi Klasik dan Modern. 1986. Jakarta : PT Gramedia. Halaman 220.
[13] Campbell, Tom. Tujuh Teori Sosial, sketsa, penilaian ,perbandingan. 1994. Yogyakarta : Kanisius. Halaman 209.
[14] Ibid. Halaman 209.
[15] George Ritzer & Douglas J. Goodman, Teori sosiologi. 2008. Yogyakarta : Kreasi Wacana. Halaman 138 – 139.
[16] George Ritzer & Douglas J. Goodman, Teori sosiologi. 2008. Yogyakarta : Kreasi Wacana. Halaman 139 – 147.
[17] George Ritzer & Douglas J. Goodman, Teori sosiologi. 2008. Yogyakarta : Kreasi Wacana. Halaman 144 – 147.
[18] Jones, Pip. Pengantar Teori-teori Sosial(dari Teori Fungsionalisme hingga Post Modernisme). 2009. Jakarta : Yayasan Obor Indonesia. Halaman 119 – 123.
[19] George Ritzer & Douglas J. Goodman, Teori sosiologi. 2008. Yogyakarta : Kreasi Wacana. Halaman 167 – 169.
[20] Campbell, Tom. Tujuh Teori Sosial (Sketsa, Penilaian, Perbandingan). 1994. Yogyakarta : Kanisius. Halaman 220.
[21] Ibid. Halaman 222.

Rabu, 31 Oktober 2012

Godless Symptoms – Revolusi Demokrasi (2012)



Godless Symptoms ‘Revolusi Demokrasi’ CD (Die Trying Records, 2012)
Pertama-tama, meski tidak menawarkan sesuatu yang segar, tapi album Revolusi Demokrasi sudah memiliki segala ‘gimmick’ untuk dijual. Bagaimana tidak, untuk pasca produksi saja, artwork dan layout sampul album dikerjakan oleh Ucok a.k.a Morgue Vanguard (Homicide / Triggermortis), font logo band dikerjakan oleh Ken Terror (Hark! It’s a Crawling Tar-tarKontra Sosial, ex-Domestik DoktrinModestic), serta ikon band dibuat oleh Dani Tremor (Milisi Kecoa).
Lanjut lagi; untuk produksi rekaman, Revolusi Demokrasi direkam oleh Toteng(Forgotten) dan di-mixing oleh Yayat (produser Burgerkill). Bahkan di lagu “Musnah Binasa” Vicky (vokalis baru) Burgerkill turut menyumbangkan vokalnya.
Revolusi Demokrasi adalah album kedua dari Godless Symptoms, setelah lima tahun yang lalu (2007) mereka merilis album debut Crossover (jangan tertukar dengan album Crossovermilik D.R.I yah). Bagi kalian yang belum aware juga, Godless Symptoms adalah band baru bentukkan Baruz, vokalis dari band hardcore Bandung tersohor era 90-an yang telah bubar, yakni Balcony.
Lima tahun pasca album Crossover, terjadi bongkar pasang line-up di formasi Godless Symptoms, salah satunya adalah masuk Joe (Terapi UrineSoldier FightSerigala Jahanam, dan puluhan band lainnya). Secara musikal, Godless Symptoms memainkan style yang dulu mungkin cukup populer di era 90-an, seperti: groove-metal, neo-thrash dan metallic-hardcore (yang saat ini nampaknya harus dipoles sedemikian apik agar tidak terdengar membosankan).
Tapi bagi penggemar band-band hardcore / metal kelas stadion, yang (rata-rata) menawarkan materi-materi antemik, bisa jadi album ini cocok untuk kalian. Yang jelas, berdasarkan tulisan saya di paragraf pertama dan kedua, saya meramalkan kalau album ini akan cepat laris dan menggema.
(Kontak: @godlesssymptoms | godless.symptoms@yahoo.com)
Genre musik: Groove-Metal, Neo-Thrash, Metallic-Hardcore
Untuk penggemar: Band-band hardcore scene GOR Saparua Bandung era 90-an.

Minggu, 28 Oktober 2012

Teori Dramaturgi dari Erving Goffman





Erving Goffman, lahir di Alberta, Canada pada 11 Juni 1922. Mendapat gelar S1 dari Univ. Toronto menerima gelar doctor dari Univ. Chicago. Beliau wafat pada tahun 1982 ketika sedang mengalami kejayaan sebagai tokoh sosiologi dan pernah menjadi professor dijurusan sosiologi Univ. Calivornia Barkeley serta ketua liga Ivy Univ. Pennsylvania. Erving Goffman, dianggap sebagai pemikir utama terakhir Chicago asli (Travers, 1922: Tselon, 1992); Fine dan Manning (2000) memandangnya sebagai sosiolog Amerika paling berpengaruh di abad 20. Antara 1950-an dan 1970-an Goofman menerbitkan sederetan buku dan esai yang melahirkan analisis dragmatis sebagai cabang interaksionisme simbolik. Walau Goffman mengalihkan perhatiannya di tahun-tahun berikutnya, ia tetap paling terkenal karena teoridramtugisnya.
Pernyataan paling terkenal Goffman tentang teori dramaturgis berupa buku Presentation of Self in Everyday Life,diterbitkan tahun 1959. Secara ringkas dramaturgis merupakan pandangan tentang kehidupan sosial sebagai serentetan pertunjukan drama dalam sebuah pentas. Istilah Dramaturgi kental dengan pengaruh drama atau teater atau pertunjukan fiksi diatas panggung dimana seorang aktor memainkan karakter manusia-manusia yang lain sehingga penonton dapat memperoleh gambaran kehidupan dari tokoh tersebut dan mampu mengikuti alur cerita dari drama yang disajikan.
Dalam Dramaturgi terdiri dari Front stage (panggung depan) dan Back Stage (panggung belakang). Front Stageyaitu bagian pertunjukan yang berfungsi mendefinisikan situasi penyaksi pertunjukan. Front stage dibagi menjadi 2 bagian, Setting yaitu pemandangan fisik yang harus ada jika sang actor memainkan perannya. Dan Front Personalyaitu berbagai macam perlengkapan sebagai pembahasa perasaan dari sang actor. Front personal masih terbagi menjadi dua bagian, yaitu Penampilan yang terdiri dari berbagai jenis barang yang mengenalkan status social actor. Dan Gaya yang berarti mengenalkan peran macam apa yang dimainkan actor dalam situasi tertentu. Back stage (panggung belakang) yaitu ruang dimana disitulah berjalan scenario pertunjukan oleh “tim” (masyarakat rahasia yang mengatur pementasan masing-masing actor)
Goffman mendalami dramaturgi dari segi sosiologi. Beliau menggali segala macam perilaku interaksi yang kita lakukan dalam pertunjukan kehidupan kita sehari-hari yang menampilkan diri kita sendiri dalam cara yang sama dengan cara seorang aktor menampilkan karakter orang lain dalam sebuah pertunjukan drama. Cara yang sama ini berarti mengacu kepada kesamaan yang berarti ada pertunjukan yang ditampilkan. Goffman mengacu pada pertunjukan sosiologi. Pertunjukan yang terjadi di masyarakat untuk memberi kesan yang baik untuk mencapai tujuan. Tujuan dari presentasi dari Diri – Goffman ini adalah penerimaan penonton akan manipulasi. Bila seorang aktor berhasil, maka penonton akan melihat aktor sesuai sudut yang memang ingin diperlihatkan oleh aktor tersebut. Aktor akan semakin mudah untuk membawa penonton untuk mencapai tujuan dari pertunjukan tersebut. Ini dapat dikatakan sebagai bentuk lain dari komunikasi. Karena komunikasi sebenarnya adalah alat untuk mencapai tujuan. Bila dalam komunikasi konvensional manusia berbicara tentang bagaimana memaksimalkan indera verbal dan non-verbal untuk mencapai tujuan akhir komunikasi, agar orang lain mengikuti kemauan kita. Maka dalam dramaturgis, yang diperhitungkan adalah konsep menyeluruh bagaimana kita menghayati peran sehingga dapat memberikan feedback sesuai yang kita mau. Perlu diingat, dramatugis mempelajari konteks dari perilaku manusia dalam mencapai tujuannya dan bukan untuk mempelajari hasil dari perilakunya tersebut. Dramaturgi memahami bahwa dalam interaksi antar manusia ada “kesepakatan” perilaku yang disetujui yang dapat mengantarkan kepada tujuan akhir dari maksud interaksi sosial tersebut. Bermain peran merupakan salah satu alat yang dapat mengacu kepada tercapainya kesepakatan tersebut.
Dalam teori Dramatugis menjelaskan bahwa identitas manusia adalah tidak stabil dan merupakan setiap identitas tersebut merupakan bagian kejiwaan psikologi yang mandiri. Identitas manusia bisa saja berubah-ubah tergantung dari interaksi dengan orang lain. Disinilah dramaturgis masuk, bagaimana kita menguasai interaksi tersebut. Dalam dramaturgis, interaksi sosial dimaknai sama dengan pertunjukan teater. Manusia adalah aktor yang berusaha untuk menggabungkan karakteristik personal dan tujuan kepada orang lain melalui “pertunjukan dramanya sendiri”. Dalam mencapai tujuannya tersebut, menurut konsep dramaturgis, manusia akan mengembangkan perilaku-perilaku yang mendukung perannya tersebut. Selayaknya pertunjukan drama, seorang aktor drama kehidupan juga harus mempersiapkan kelengkapan pertunjukan. Kelengkapan ini antara lain memperhitungkan setting, kostum, penggunakan kata (dialog) dan tindakan non verbal lain, hal ini tentunya bertujuan untuk meninggalkan kesan yang baik pada lawan interaksi dan memuluskan jalan mencapai tujuan. Oleh Goffman, tindakan diatas disebut dalam istilah “impression management”. Goffman juga melihat bahwa ada perbedaan akting yang besar saat aktor berada di atas panggung (“front stage”) dan di belakang panggung (“back stage”) drama kehidupan. Kondisi akting di front stage adalah adanya penonton (yang melihat kita) dan kita sedang berada dalam bagian pertunjukan. Saat itu kita berusaha untuk memainkan peran kita sebaik-baiknya agar penonton memahami tujuan dari perilaku kita. Perilaku kita dibatasi oleh oleh konsep-konsep drama yang bertujuan untuk membuat drama yang berhasil (lihat unsur-unsur tersebut pada impression management diatas). Sedangkan back stage adalah keadaan dimana kita berada di belakang panggung, dengan kondisi bahwa tidak ada penonton. Sehingga kita dapat berperilaku bebas tanpa mempedulikan plot perilaku bagaimana yang harus kita bawakan. Contohnya, seorang teller senantiasa berpakaian rapi menyambut nasabah dengan ramah, santun, bersikap formil dan perkataan yang diatur. Tetapi, saat istirahat siang, sang teller bisa bersikap lebih santai, bersenda gurau dengan bahasa gaul dengan temannya atau bersikap tidak formil lainnya (ngerumpi, dsb). Saat teller menyambut nasabah, merupakan saat front stage baginya (saat pertunjukan). Tanggung jawabnya adalah menyambut nasabah dan memberikan pelayanan kepada nasabah tersebut. Oleh karenanya, perilaku sang teller juga adalah perilaku yang sudah digariskan skenarionya oleh pihak manajemen. Saat istirahat makan siang, teller bebas untuk mempersiapkan dirinya menuju babak ke dua dari pertunjukan tersebut. Karenanya, skenario yang disiapkan oleh manajemen adalah bagaimana sang teller tersebut dapat refresh untuk menjalankan perannya di babak selanjutnya.
Sebelum berinteraksi dengan orang lain, seseorang pasti akan mempersiapkan perannya dulu, atau kesan yang ingin ditangkap oleh orang lain. Kondisi ini sama dengan apa yang dunia teater katakan sebagai “breaking character”. Dengan konsep dramaturgis dan permainan peran yang dilakukan oleh manusia, terciptalah suasana-suasana dan kondisi interaksi yang kemudian memberikan makna tersendiri. Munculnya pemaknaan ini sangat tergantung pada latar belakang sosial masyarakat itu sendiri. Terbentuklah kemudian masyarakat yang mampu beradaptasi dengan berbagai suasana dan corak kehidupan. Masyarakat yang tinggal dalam komunitas heterogen perkotaan, menciptakan panggung-panggung sendiri yang membuatnya bisa tampil sebagai komunitas yang bisa bertahan hidup dengan keheterogenannya. Begitu juga dengan masyarakat homogen pedesaan, menciptakan panggung-panggung sendiri melalui interaksinya, yang terkadang justru membentuk proteksi sendiri dengan komunitas lainnya. Apa yang dilakukan masyarakat melalui konsep permainan peran adalah realitas yang terjadi secara alamiah dan berkembang sesuai perubahan yang berlangsung dalam diri mereka. Permainan peran ini akan berubah-rubah sesuai kondisi dan waktu berlangsungnya. Banyak pula faktor yang berpengaruh dalam permainan peran ini, terutama aspek sosial psikologis yang melingkupinya.
Dramarturgi hanya dapat berlaku di institusi total,Institusi total maksudnya adalah institusi yang memiliki karakter dihambakan oleh sebagian kehidupan atau keseluruhan kehidupan dari individual yang terkait dengan institusi tersebut, dimana individu ini berlaku sebagai sub-ordinat yang mana sangat tergantung kepada organisasi dan orang yang berwenang atasnya. Ciri-ciri institusi total antara lain dikendalikan oleh kekuasan (hegemoni) dan memiliki hierarki yang jelas. Contohnya, sekolah asrama yang masih menganut paham pengajaran kuno (disiplin tinggi), kamp konsentrasi (barak militer), institusi pendidikan, penjara, pusat rehabilitasi (termasuk didalamnya rumah sakit jiwa, biara, institusi pemerintah, dan lainnya. Dramaturgi dianggap dapat berperan baik pada instansi-instansi yang menuntut pengabdian tinggi dan tidak menghendaki adanya “pemberontakan”. Karena di dalam institusi-institusi ini peran-peran sosial akan lebih mudah untuk diidentifikasi. Orang akan lebih memahami skenario semacam apa yang ingin dimainkan. Bahkan beberapa ahli percaya bahwa teori ini harus dibuktikan dahulu sebelum diaplikasikan.
Teori ini juga dianggap tidak mendukung pemahaman bahwa dalam tujuan sosiologi ada satu kata yang seharusnya diperhitungkan, yakni kekuatan “kemasyarakatan”. Bahwa tuntutan peran individual menimbulkan clash bila berhadapan dengan peran kemasyarakatan. Ini yang sebaiknya dapat disinkronkan.
Dramaturgi dianggap terlalu condong kepada positifisme. Penganut paham ini menyatakan adanya kesamaan antara ilmu sosial dan ilmu alam, yakni aturan. Aturan adalah pakem yang mengatur dunia sehingga tindakan nyeleneh atau tidak dapat dijelaskan secara logis merupakan hal yang tidak patut.

Jumat, 26 Oktober 2012

FOR YOU, HIM, HER, THEIR AND YOU ARE part II

Disini ga ada yang namanya suka, yang ada hanyalah pandangan kita lah yang terlalu berlebihan dalam melihat subyek tersebut
Disini ga ada yang namanya sayang, yang ada hanyalah suatu rasa sakit jika mendapatkan balasan dari rasa sayang tersebut
Disini ga ada yang namanya cinta, yang ada hanyalah sebongkah nafsu yang menghiasi otak dan hati kita ketika bertemu dengan wanita itu
Disini ga ada yang namanya cemburu, yang ada hanyalah rasa takut kehilangan dia disaat kita bener-bener menginginkannya
Disini ga ada yang namanya galau, yang ada perasaan cengengmulah yang lebih kuat dari perasaan tangguhmu
Disini ga ada yang namanya pacaran, yang ada hanyalah status konyol yang dibuat oleh manusia guna ingin memiliki orang yang disayangnya
Disini ga ada yang namanya Ketulusan Cinta, yang ada hanyalah tangisan yang akan mewarnai hidupmu ketika kau merasakannya
Disini ga ada yang namanya menerima apa adanya, yang ada hanyalah waktu yang akan memisahkan kalian ketika kalian mengatakannya dengan suatu kemunafikan
Disini ga ada yang namanya kesetiaan, yang ada hanyalah seorang pemimpi kecil akan merasa terhianati oleh kata-kata manis gadis kecil idamannya
Disini ga ada yang namanya patah hati, yang ada hanyalah usaha kitalah yang belum dikabulkan oleh tuhan kita sendiri
Disini ga ada yang namanya balas dendam, yang ada hanyalah seperangkat rencana untuk membuat kau merasakan apa yang seharusnya kau rasakan terhadap aku dulu
Disini ga ada yang namanya belas kasihan, yang ada hanyalah perasaan dendam menyelimuti diri manusia yang dihantui rasa balas dendam sepanjang hidupnya

Faith, Believe, and Respect
Strenght Throught Unity, Unity Throught Faith

Belajar menerima, memberi, mengikhlaskan dan membiarkan semuanya kembali seperti semula

Jadwal mainnya madrid ampe november

Nih buat madridista :D
Hala Madrid :)))))